MALUKUnews.co: Virus corona terus bermutasi hingga menghasilkan varian yang berbeda-beda. Salah satunya yang tengah menjadi perhatian yaitu varian Delta yang dianggap cukup berbahaya.

Selain varian Delta, baru-baru ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kerap menyoroti mutasi virus corona asal Indonesia. Ingin tahu seperti apa mutasi lokal COVID-19? Simak selengkapnya di bawah ini.

Mutasi Lokal COVID-19 di Indonesia

Dilansir dari laman resmi WHO, dalam hasil pelacakan terbaru dari mutasi virus corona di dunia, varian virus corona asal Indonesia masuk dalam daftar "Alerts for Further Monitoring".

Alerts for Further Monitoring artinya varian corona yang masih dalam pengawasan. Namun, belum masuk dalam tahap berbahaya atau Variant of Concern (VoC) maupun Variant under Investigation (VuI).

Pemberian label Alerts for Further Monitoring untuk mutasi virus corona Indonesia dikarenakan varian ini dinilai dapat menimbulkan risiko di masa depan.

Namun, belum ada bukti yang jelas saat ini. Jadi, masih diperlukan pemantauan dan penilaian ulang sambil menunggu adanya bukti baru.

Varian virus corona lokal Indonesia diberi nama sementara yaitu B14662. Nama sementara ini diberikan karena virus masih dalam pemantauan.

Indonesia pertama kali memberikan sampel kepada WHO terkait varian B14662 pada November 2020 lalu. Kemudian, WHO mengategorikannya dalam kelompok Alerts for Further Monitoring pada 28 April 2021.

Apakah Mutasi Lokal COVID-19 Lebih Berbahaya?

Dijelaskan oleh dr. Dyah Novita Anggraini, selama masih ada tempat virus bernaung (manusia), pasti virus akan bermutasi untuk bertahan hidup. Ketika virus mereplikasi atau membuat salinan dari dirinya sendiri, perubahan ini disebut mutasi.

“Perubahan virus terkadang dapat menghasilkan varian virus yang lebih beradaptasi dengan lingkungannya dibandingkan virus aslinya. Oleh karena itu, mutasi virus dianggap lebih berbahaya,” ucap dr. Dyah Novita.

Sejauh ini, ada ratusan variasi virus corona telah diidentifikasi di seluruh dunia. Dalam hal ini, WHO telah mengamati fenomena mutasi virus corona sejak Januari 2020.

Sebagian besar perubahan tidak banyak berdampak pada tubuh virus. Namun, hal ini tergantung dari letak perubahan pada materi genetik virus.

Perubahan tersebut dapat memengaruhi sifat virus. Contohnya, penularan (apakah menyebar lebih mudah) atau keparahan (misalnya menyebabkan penyakit yang lebih parah).

Menurut Johns Hopkins Medicine, AS, ada bukti dari penelitian laboratorium bahwa beberapa respons imun yang didorong oleh vaksin saat ini bisa menjadi kurang efektif terhadap beberapa varian baru virus corona.

Respons imun melibatkan banyak komponen, termasuk sel B yang membuat antibodi dan sel T yang dapat bereaksi terhadap sel yang terinfeksi.

Namun, pengurangan satu komponen tidak berarti vaksin tidak akan memberikan perlindungan.

Oleh karena itu, orang-orang yang telah menerima vaksin harus tetap melanjutkan tindakan pencegahan virus corona untuk mengurangi risiko infeksi.

Dokter Dyah Novita mengatakan, tindakan pencegahan untuk mutasi virus corona masih sama dengan varian aslinya. Contohnya, memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, dan menjauhi kerumunan. (FR/AYU)

Sumber: klikdokter.com