MALUKUnews: Banyak rumah tangga yang menampung air hujan, lalu mengolah dan memanfaatkannya untuk keperluan sehari-hari, misalnya dipakai untuk mandi atau dikonsumsi. Namun, pertanyaannya apakah ini aman bagi kesehatan tubuh?

Kontroversi tentang aman atau tidaknya air hujan untuk kebutuhan manusia memang sudah lama berlangsung.

Hingga kini, masih banyak yang bertanya-tanya tentang keamanan air hujan untuk dimanfaatkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Jawabannya pun masih berbeda-beda.

Kandungan Air Hujan

Secara alami, air hujan memiliki kandungan mineral yang lebih sedikit daripada air yang digunakan sehari-hari. Ini karena air hujan tidak melewati bebatuan dan mengalir di sungai, sehingga tidak mengandung garam dan mineral yang banyak seperti air tanah.

Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Monash, Australia, meneliti 300 rumah yang menggunakan air hujan dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari.

Dari penelitian tersebut, didapat hasil bahwa orang-orang yang mengonsumsi air hujan secara langsung tidak mengalami penyakit gastroenteritis atau muntaber yang serius dibandingkan dengan orang-orang yang minum air biasa.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa air hujan aman-aman saja untuk digunakan.Meski demikian, tidak semua air hujan bisa disamaratakan. Ini karena tiap tempat kandungan air hujannya pasti akan berbeda.

Misalnya, tempat yang dekat dengan kawasan industri, limbah, atau sekitar gunung berapi yang aktif.

Air hujan di tempat-tempat tersebut sudah pasti terkontaminasi dengan zat-zat berbahaya, sehingga tidak baik bagi kesehatan.

Perlu juga diketahui bahwa air hujan berasal dari proses evaporasi, yaitu air yang berada di Bumi (laut, danau, sungai, dan sebagainya) menguap karena panas. Kemudian, uap air yang dihasilkan terangkat ke udara.

Jadi, bila lingkungan tempat Anda tinggal tingkat polusi dan pencemaran airnya masih tinggi, air hujan tidak layak untuk dikonsumsi karena potensi bahaya yang dibawanya.

Bagaimana Jika Air Hujan Dipakai untuk Mandi, Apakah Kandungannya Berbahaya? Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), air hujan tidak selalu sama dan semurni yang Anda kira.

Kandungan air hujan telah terkontaminasi dengan kotoran hewan, bakteri, parasit, virus, dan bahan kimia yang dapat membuat Anda terserang penyakit.

Menurut penelitian, jumlah bakteri pada air hujan bisa mencapai 1.362 bakteri per sampel.

Bakteri yang paling banyak ditemukan adalah yang berasal dari feses dan yang dapat menginfeksi saluran napas.

Kandungan kimia dalam air hujan pun beragam: ada uap air, asam nitrat, karbon, asam sulfat, dan garam. Dari situ diketahui bahwa pH air hujan adalah asam, tidak cukup baik untuk kulit.

Dampak Buruk Mandi Pakai Air Hujan bagi Tubuh

Efek buruk akibat mandi air hujan pun bisa beragam. Akibat kandungan bakterinya, mandi dengan air hujan bisa menyebabkan Anda terkena infeksi kulit, infeksi saluran pernapasan, dan gangguan pencernaan.

Bakteri, jamur dan parasit dapat menyebabkan penyakit kulit yang ditandai dengan gatal-gatal, kulit menjadi kemerahan, bentol, dan beruntusan.

Selain itu, suhu air hujan yang dingin juga dapat memicu alergi pada beberapa orang yang sensitif.

Jika tidak sengaja tertelan saat mandi, bakteri yang terkandung di dalam air hujan dapat menimbulkan diare, sakit kepala, demam, dan muntah.

Kandungan kimianya juga bisa membuat kulit jadi kering, sehingga meningkatkan risiko iritasi dan infeksi.

Meskipun ada perbedaan pendapat tentang pemanfaatan air hujan untuk keperluan sehari-hari, misalnya untuk dikonsumsi atau untuk mandi, sebaiknya penggunaannya dihindari. Pasalnya, ada risiko beragam penyakit bisa muncul. Bila masih ada sumber air lain yang lebih bersih, aman, dan terjamin, lebih baik hindari pemakaian air hujan. (RN/AYU)

Sumber: klikdokter.com