MALUKUnews: Pandemi COVID-19 masih menjadi ancaman kesehatan secara global. Mungkin tidak pernah terbayangkan bahwa di zaman modern seperti sekarang ini, dapat terjadi wabah penyakit infeksi yang menyerang jutaan orang di seluruh dunia dan membunuh ratusan ribu di antaranya.

Para peneliti terus bekerja keras untuk menemukan metode pengobatan dan pencegahan terbaik dari penyakit ini. Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah vitamin D.

Sejak dulu, vitamin D dikenal sebagai vitamin yang berperan dalam meningkatkan daya tubuh manusia, termasuk dalam melawan infeksi virus. Terdapat beberapa mekanisme vitamin D untuk melawan infeksi virus, yaitu:

1. Memperkuat Ikatan Antar Sel

Satu sel dengan sel yang lain terkait oleh beberapa jenis penghubung, antara lain tight junction dan gap junction. Vitamin D diketahui mampu menguatkan ikatan antar sel dan menjadi pembatas bagi virus yang membuat mereka tidak bisa melewati celah antar sel tersebut.

2. Meningkatkan Kemampuan Imunitas Bawaan

Vitamin D meningkatkan produksi peptida antimikroba yang secara langsung dapat menghambat pertumbuhan berbagai bakteri, virus dan jamur. Peptida ini juga dapat membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dan menetralkan aktivitas toksin dari mikroorganisme tersebut.

Pada sebuah studi yang dilakukan pada tikus, pemberian suplemen vitamin D mampu menurunkan replikasi rotavirus dan virus dengue (penyebab DBD).

3. Mencegah Terjadinya Badai Sitokin dan Memodulasi Imunitas Adaptif

Vitamin D dapat mencegah terjadinya aktivitas yang berlebihan dari sistem imun, yang dikenal sebagai badai sitokin. Badai sitokin inilah yang menjadi penyebab rusaknya jaringan tubuh. Ditambah dengan kemampuan vitamin D dalam mengatur sistem imun adaptif Anda.

Berbagai mekanisme itu menjadikan vitamin D memiliki peran yang sangat vital dalam menunjang sistem imun. Dengan begitu, sistem imun Anda dapat menghadapi berbagai serangan bakteri, virus, jamur, dan parasit yang dapat menyebabkan berbagai penyakit infeksi.

Selain sebagai pendukung sistem imun, vitamin D juga memiliki banyak manfaat lain bagi tubuh Anda, yaitu membantu penyerapan kalsium dan fosfat yang penting untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Terpenuhinya kebutuhan vitamin D juga mampu mencegah berbagai risiko kehamilan pada ibu hamil.

Hubungan Vitamin D dan Virus Corona

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti dari Queen Elizabeth Hospital, Inggris, menemukan fakta yang menarik tentang vitamin D dan kematian akibat corona.

Penelitian ini menganalisis data penderita COVID-19 di dua puluh negara Eropa. Hasilnya menunjukkan, terdapat hubungan yang sangat kuat antara rendahnya kadar vitamin D dengan tingginya jumlah orang yang terinfeksi dan meninggal akibat COVID-19.

Rendahnya kadar vitamin D pada populasi usia lanjut di berbagai negara seperti Spanyol, Italia, dan Swiss menjadi salah satu alasan mengapa mereka sangat rentan terhadap COVID-19.

Karena itu, mereka merekomendasikan pemberian terapi vitamin D sebagai salah satu upaya pencegahan infeksi COVID-19 pada orang yang rentan dengan kadar vitamin D yang rendah.

Cara Memenuhi Kebutuhan Vitamin D

Sumber utama vitamin D adalah paparan sinar matahari. Ketika kulit Anda terpapar sinar matahari, maka tubuh Anda akan membentuk previtamin D dari provitamin D di kulit yang kemudian akan diolah menjadi vitamin D. Oleh karena itu, rutin berjemur akan sangat membantu Anda dalam memenuhi kebutuhan vitamin D.

Paparkan paling tidak wajah dan tangan Anda selama 15-20 menit per hari tanpa menggunakan sunblock. Tetapi hindarilah berjemur terlalu lama di bawah terik matahari dan tanpa sunblock karena akan menimbulkan risiko berbagai penyakit, salah satunya kanker kulit.

Walaupun tidak terkandung dalam banyak jenis makanan, Anda juga dapat memperoleh manfaat vitamin D dari pola makan harian. Sumber makanan vitamin D bisa didapat dari berbagai jenis ikan, seperti ikan salmon, sarden, dan tuna. Daging merah dan kuning telur juga mengandung vitamin D. RS

Sumber: klikdokter.com