MALUKUnews: Mengamati masa new normal sekarang, rasanya sudah agak aman untuk mulai kembali beraktivitas seperti dulu. Namun, janganlah lengah karena virus corona masih merebak di mana-mana dan situasi belum bisa dikatakan aman.

Seperti yang kita tahu, infeksi COVID-19 berisiko tinggi menular lewat kontak fisik langsung dan udara. Meski berada di ruangan yang besar, kemungkinan penularan tetap saja ada.

Untuk lebih memahami alur penularan dan cara memaksimalkan proteksi diri, simak tiga analisis yang dipublikasikan media Spanyol, El Pais, mengenai gambaran risiko penyebaran COVID-19 khususnya di perkantoran, restoran, dan bus.

Alur Penularan COVID-19 di Perkantoran

Tak bisa dimungkiri, kegiatan kantor dalam ruangan yang sama dan tatap muka secara langsung berisiko tinggi menularkan virus corona. Analisis pertama mengambil lokasi di departemen call center dalam sebuah kantor di Seoul, Korea Selatan.

Sebanyak tiga belas staf bekerja di ruangan bersama dengan meja kerja panjang. Mereka duduk berderet di kursi masing-masing namun tidak berdempetan. Di antara mereka, 9 dari 13 staf positif terinfeksi COVID-19.

Di ruangan yang sama, masih ada lagi para staf lainnya sebanyak 137 dengan penempatan area duduk serupa. Nah, dari 137 staf tersebut, 79 di antaranya juga positif terinfeksi.

Tak berhenti di situ, beberapa staf di ruangan lain namun masih di lantai yang sama juga terinfeksi. Begitupun segelintir staf di lantai-lantai lainnya.

Apa yang bisa dipelajari? Nyatanya, kontak fisik atau tatap muka yang intens di ruang atau gedung yang sama dalam waktu yang berkepanjangan sangat berperan dalam menularkan virus corona dari satu orang ke orang lainnya.

Selain di ruang kerja bersama, para staf pasti juga sering berada di lift dan lobi. Lokasi-lokasi inilah yang sering ditempati mereka dan meningkatkan risiko penyebaran.

Menurut dr. Alvin Nursalim, Sp.PD, studi tentang penularan virus corona memang masih berlanjut. Namun, ia berpendapat bahwa luas ruangan dan jumlah orang di dalamnya memang bisa memengaruhi cepat atau tidaknya penularan virus.

“Luas ruangan dan jumlah orang berpengaruh. Semakin kecil ruangan dan jumlah orangnya semakin banyak, maka sirkulasi droplet yang dikeluarkan akan semakin padat dan kemungkinan terkena semakin tinggi. Penularan pun jadi lebih tinggi,” ujar dr. Alvin. Penelitian ini juga menekankan, durasi kontak atau tatap muka langsung antar staf menjadi salah satu faktor penularan. Terlebih, mereka berada di area tertutup.

“Semakin lama kita dalam ruangan atau semakin lama berkontak dengan yang positif, logikanya risiko terpapar droplet dari orang lain semakin meningkat. Jadi, risiko tertular juga bisa meningkat,” jelasnya.

Lalu, bagaimana cara menekan penularan di area kerja dan gedung perkantoran? Tentunya, usahakan menyediakan ventilasi alami untuk menghindari resirkulasi udara yang mengandung virus.

“Akan lebih baik bila bekerja dengan ventilasi yang baik dengan aliran udara alami yang masuk dan keluar, misal melalui jendela. Namun, banyak kantor yang tidak memungkinkan mematikan AC dan membuka jendela. Maka, utamakan physical distancing, penggunaan masker, dan pola hidup bersih,” pesan dr. Alvin.

Selain itu, hindari pertemuan langsung antar staf baik di ruang kerja maupun area istirahat, utamakan work from home, mengatur area duduk berpola zig-zag dengan jarak 2 meter masing-masing orang, dan hindari pinjam-meminjam alat kantor. Alur Penularan COVID-19 di Restoran

Kali ini, mari menilik analisis penularan infeksi virus corona di sebuah restoran di Guangzhou, Tiongkok. Ruangan di restoran tersebut memiliki luas 6 m x 17,5 m. Situasi di dalamnya begitu penuh, ada AC, tanpa ventilasi alami, dan ada sekitar sembilan puluh orang pengunjung serta delapan pelayan.

Di meja A (di sudut ruangan), ada satu orang (patient zero) yang sehari sebelumnya tiba dari Wuhan yang makan dengan keluarganya. Pada malam harinya, ia menunjukkan gejala dan dilarikan ke rumah sakit.

Kemudian, ternyata sembilan pengunjung lainnya juga terinfeksi virus corona, termasuk di dalamnya orang-orang meja A. Orang lainnya duduk di meja B dan C, letaknya lebih dari 1 m dari patient zero di ruangan resto tersebut, bahkan ada yang berjarak 4,5 m. Pengunjung meja lainnya tidak terinfeksi.

Setelah diteliti oleh aparat kesehatan Tiongkok, nyatanya panjang waktu yang dihabiskan di dalam ruangan restoran sangat berpengaruh dalam penularan. Ditambah lagi dengan AC yang membuat udara beresirkulasi.

Keluarga di meja B berada di dekat patient zero selama 53 menit, dan keluarga meja C selama 75 menit. Sementara, keluarga meja D (yang agak berseberangan dengan meja A) hanya menghabiskan waktu selama 18 menit.

Perlu diketahui, posisi meja A, B, dan C berderetan dan sejajar dengan AC. Berbeda dengan meja D yang berada di baris lainnya. Mirip, bukan, dengan analisis kasus penularan di gedung kantor Seoul? Selain durasi pertemuan langsung yang cukup lama dan kontak dekat, penggunaan AC di ruangan juga berpengaruh.

Para peneliti percaya, AC tersebut menyebabkan udara beresirkulasi secara terus-menerus di antara meja A, B, dan C. Akhirnya, micro droplet dari patient zero meja A menyebar ke udara di sekitar pengunjung meja B dan C.

“Saat seseorang ngomong atau batuk dan bersin, droplet akan beterbangan di dalam ruangan. Sirkulasi udara yang tidak baik akan menyebabkan droplet berada di dalam ruangan lebih lama,” ungkap dr. Alvin.

Seperti yang ditekankan dr. Alvin sebelumnya, ventilasi udara yang baik sangatlah penting. Lebih baik memang gunakan jendela untuk sirkulasi udara, bukan AC. Jangan lupa gunakan filter udara agar kualitas udara lebih baik. Selain itu, sebisa mungkin jangan berlama-lama di tempat indoor dan perbesar jarak satu sama lain. Di restoran, lebih baik tidak memainkan musik keras untuk mengurangi teriakan ketika orang berbicara, karena ini meningkatkan risiko keluar banyak droplet.

Alur Penularan COVID-19 di Bus

Masih di Tiongkok, tepatnya di Zhejiang, Pemerintah Tiongkok dan peneliti dari Amerika Serikat menganalisis perjalanan dengan dua bus berisi 60 dan 68 orang. Perjalanan memakan waktu 50 menit masing-masing bus.

Satu wanita usia 64 tahun dengan gejala berada di salah satu bus dan menulari 23 penumpang lainnya. Ia dipercaya menjadi superspreader (patient zero) dan nyatanya sempat berkontak dengan orang dari Wuhan.

Bus itu pun menggunakan AC dan udaranya beresirkulasi. Keadaannya penuh, dengan jarak bangku hampir 75 cm per baris. Sangat dekat, kan?

Peneliti menganggap resirkulasi udara yang sudah terkontaminasi virus corona di dalam bus berperan dalam penularan, terlepas dari jarak duduk dengan patient zero.

Hal yang bisa dipelajari di sini adalah penggunaan masker yang benar. Bila protokol kesehatan diterapkan dengan baik, risiko penularan dapat ditekan. Lagi-lagi, ventilasi udara juga penting. Lalu, hindari membawa penumpang terlalu banyak.

Nah, dari tiga analisis penularan virus corona di atas, menjaga jarak, memakai masker, dan jaga kebersihan diri merupakan prioritas penting! Hal ini akan jauh lebih efektif bila masing-masing orang taat melakukannya, demi satu tujuan yaitu menghentikan penularan COVID-19. (AYU/ARM)

Sumber: klikdokter.com