Oleh: M.Rismawan Ridha, SST (Statistisi Pertama BPS Malteng)

MALUKUnews.co: Permasalahan kompleks yang timbul akibat pandemi covid-19 bermuara pada pertanyaan besar : “Kapan kondisi ini akan berakhir?

Masyarakat telah merindukan saat dimana mereka dapat beraktivitas dengan normal. Tidak adanya pembatasan, dapat berkerumun dan berhimpun dalam berbagai aktivitas sosial seperti menonton sepakbola, tabligh akbar atau ikut dalam kampanye, tanpa perlu merasa khawatir. Ataukah, ini menjadi suatu indikator bahwa kita harus siap hidup berdampingan dengan covid-19?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, tulisan ini mencoba membahas beberapa indikator terkait evaluasi pemulihan ekonomi maluku di masa pandemi covid-19 melalui angka jumlah Kasus Terindikasi Positif Covid-19, Indikator Makroekonomi dan Capaian Vaksinasi. Apakah kita telah siap untuk mengakhiri pandemi?

Jumlah Kasus Terindikasi Positif Covid-19

Di fase awal triwulan II, Indonesia sebenarnya telah mengalami perlambatan jumlah kasus covid-19. Juru bicara Satgas, Prof. Wiku, memaparkan bahwa pada periode Juli 2021, daerah dengan jumlah kasus terbanyak seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Jawa Timur dan Banten mengalami perlambatan kenaikan kasus yang signifikan.

DKI yang sebelumnya naik 50 persen, pada periode ini hanya mengalami kenaikan sebesar 1,55 persen. Sayangnya, kondisi ini tidak mampu bertahan lama karena adanya mutasi genetik yang melahirkan varian baru Delta, menyebabkan melonjaknya kembali kasus covid-19 atau yang sering kita sebut sebagai second wave.

Jika kita lihat kondisi pandemi Maluku yang dilansir dari situs resmi Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Maluku (covid19maluku.com), tercatat bahwa total kasus kumulatif per 7 September 2021 mencapai 14.450 kasus, dimana jumlah kasus aktif sebanyak 432.

Untuk kasus aktif Kabupaten Maluku Tengah mencapai 103 kasus. Secara nasional, kasus covid-19 di maluku menyumbang sebesar 0,3 persen dari total kasus aktif di Indonesia.

Jika dibandingkan dengan periode 4 Juli 2021 saat varian delta diumumkan telah masuk ke Indonesia dan mulai diberlakukannya PPKM (Pembatasan Kegiatan Masyarakat), jumlah kumulatif terkonfirmasi telah mencapai 9.345 dengan jumlah kasus aktif sebanyak 278. Jumlah pasien yang sembuh sembuh sebanyak 7.731 dan yang meninggal sebanyak 149. Dari data tersebut, dapat kita simpulkan bahwa kasus covid-19 memang meningkat sejak diumumkannya second wave di Indonesia.

Meski demikian, pemerintah telah menyiapkan fasilitas kesehatan yang memadai dalam menghadapi kondisi ini, terlihat dari penambahan jumlah fasilitas kesehatan untuk merawat pasien covid-19.

Rumah Sakit Umum maupun tempat lainnya yang dialihfungsikan menjadi faskes sekarang telah berjumlah 34 yang tersebar di seluruh provinsi Maluku dengan total kapasitas ruangan sebesar 1.419 ruangan. Kondisi ini jauh lebih baik sekalipun terjadi pelonjakan kasus covid-19, dikarenakan Bed Occupancy Rate (BOR)/Tingkat Keterisian Tempat Tidur yang masih tergolong rendah.

Indikator Makroekonomi

Pandemi telah menyebabkan kontraksi ekonomi besar yang sudah lama tidak terjadi sejak akhir 1990-an. Menurut BPS (2020), kinerja pertumbuhan ekonomi Maluku terkontraksi sebesar 3,42 persen (-3,42%) pada tahun 2020 secara year-on-year.

Dari sisi produksi, kontraksi tertinggi dipicu oleh kategori transportasi dan pergudangan sebesar 18,72 persen (-18,72%). Dari sisi pengeluaran, kontraksi tertinggi adalah komponen ekspor luar negeri yang mengalami kontraksi sebesar 5,96 persen (-5,96%). Kondisi yang sama juga dialami oleh Maluku Tengah.

Tercatat kontraksi pertumbuhan ekonomi yang terjadi sebesar 0,4 persen (-0,4%) pada tahun 2020 secara year-on-year. Dari sisi produksi, kontraksi tertinggi juga dipicu oleh kategori transportasi dan pergudangan sebesar 9,98 persen (-9,98%) dan dari sisi pengeluaran, kontraksi tertinggi terjadi pada komponen net ekspor luar negeri yang mengalami kontraksi sebesar 10,3 persen (-10,3 %).

Kenyataan tersebut menjadi sebuah pukulan yang amat menyakitkan bagi perekonomian Maluku, khususnya Maluku Tengah, mengingat tren kinerja selama beberapa tahun terakhir selalu menuai angka diatas 5 persen per tahunnya. Resesi ekonomi ini berdampak dalam pada sosial ekonomi masyarakat di Maluku, mengakibatkan hilangnya pekerjaan dan pendapatan dalam skala yang luas.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), yang lebih dikenal dengan angka pengangguran, meningkat 0,88 poin persentase dari 2019 yang sebesar 6,69 menjadi 7,57 pada tahun 2020. Sementara itu, angka kemiskinan di Maluku naik sebesar 0,34 poin persentase, dari September 2019 yang sebesar 17,65 persen menjadi 17,99 persen pada tahun 2020.

Kabar baiknya, pada pertengahan tahun 2021 ekonomi Maluku berangsur-angsur pulih. Dalam rilis terakhir, BPS (2021) mencatat bahwa perekonomian provinsi Maluku di triwulan II 2021 tumbuh 4,53 persen (4,53%). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai Kategori Transportasi dan Pergudangan sebesar 15,11 persen (15,11%).

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah yang tumbuh sebesar 5,01 persen. Performa ini diperkirakan akan terus tumbuh seiring dengan pelonggaran kebijakan dan dibukanya kembali pundi-pundi penggerak ekonomi.

Di lain sisi, angka kemiskinan pun juga mengalami penurunan. Tercatat pada Maret 2021, angka kemiskinan provinsi Maluku turun sebesar 0,12 poin persentase ke angka 17,87 persen.

Capaian Vaksinasi

Capaian vaksinasi covid-19 di Maluku tergolong masih rendah. Hingga 7 September 2021, masyarakat yang baru divaksin dosis pertama sebanyak 170.228 atau baru 12,01 persen dari total penduduk provinsi Maluku.

Sedangkan, dari sejumlah yang telah mendapatkan dosis pertama, baru 4,88 persen saja yang sudah mendapatkan suntikkan dosis kedua. Jika dilihat progres per kabupaten/kota, kabupaten Maluku Tengah sendiri tercatat masih menjadi yang terendah dalam capaian vaksinasi covid-19 dengan persentase total vaksinasi dosis pertama dan kedua masing-masing sebesar 4,27 persen dan 1,56 persen. Kota Ambon menjadi yang paling banyak menerima vaksinasi dosis pertama dan kedua, dengan capaian masing-masing sebesar 29,48 persen dan 10,86 persen.

Dari penjelasan terkait beberapa indikator diatas, dapat ditarik benang merah bahwasannya kita telah menerima sinyal pemulihan ekonomi yang lebih stabil, hal ini terlihat dari membaiknya indikator ekonomi maupun kemiskinan. Namun, kunci utama dalam mengakhiri pandemi covid-19 adalah capaian angka vaksinasi.

Jika kita mampu mencapai target sesuai dengan yang telah ditetapkan, akan tercipta herd immunity (kekebalan dalam masyarakat) dengan lebih cepat, sehingga membuka pundi-pundi perekonomian pun akan mampu berjalan dengan efektif dan progresif. Oleh karena itu, perlu upaya bersama dari Pemerintah, institusi terkait, dan juga masyarakat untuk bersama-sama mengawal pelaksanaan vaksinasi covid-19.

Dengan mengikuti semua kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah dan tetap mematuhi protokol kesehatan, pandemi covid-19 akan segera berakhir. (***)