Oleh: Amsir Renoat (Ketum GmnI Ganesha Ambon)

MALUKUnews.co: Sejak awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kebhinekaan, sudah merupakan kekayaan negara yang harus diakui, di terima dan di hormati.

Kemajemukan sebagai anugerah juga harus dipertahankan, di pelihara dan di kembangkan yang kemudian di wujudkan dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Kemajemukan tersebut telah di akomodasi dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 19945.

Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia,tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa kebhinekaan telah menjadi perekat dan pengikat kesatuan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara, nilai-nilai tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah sila-sila yang termaktub di dalam pancasila. Pancasila telah menjadi kekuatan pendorong untuk mencapai tujuan yang di cita-citakan.

Oleh sebab itu, menjaga keberagaman identitas sudah seharusnya menjadi pekerjaan moral yang paling prinsipil bagi setiap warga negara Indonesia yang merupakan negara yang begitu pluralis. Tindakan terorisme, intimidasi, dan diskriminasi suatu suatu agama sangatlah tidak dibenarkan oleh logika apapun.

Insiden pengeboman yang baru saja terjadi di gareja katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu, 28 Maret 2021, merupakan bentuk daripada intimidasi kepercayan yang berpotensi melahirkan trauma bagi masyarakat yang menjalankan perintah agama. Padahal setiap agama telah mengajarkan para pemeuluknya untuk saling mengasihi dan menyayangi antar sesama manusia.

Tidak satupun agama di muka bumi ini yang mengajarkan tentang intoleransi atau kebencian kepada agama-agama lain karena perbedaan kepercayaan. Itu sebabnya perlu dipertagaskan kembali tentang indentitas kebangsaan kita yamg begitu menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan yang telah di bingkai di dalam semboyan Bhinek Tunggal Ika.

Seperti kita lihat, problem terbesar yang menghantui relasi antar-umat beragama di Indonesia adalah menguatnya sentimen kecurigaan dan kebencian yang menjurus pada aksi intoleran. Terlebih dalam kurun waktu lima tahun belakangan. Kelindan antara politik identitas dan sentimen keagamaan telah menyuburkan praktik intoleransi atas nama agama.

Tingginya angka intoleransi sebagai akibat dari eksploitasi politik identitas itu tergambar dalam hasil penelitian Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2018 lalu. LSI melakukan jajak pendapat terhadap 1520 responden yang dipilih melalui metode multiple-stage random sampling dengan margin error sebesar 2, 5 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Hasilnya cukup mengejutkan. Sebagian responden muslim menunjukkan kecenderungan untuk sikap intoleran terhadap kelompok non-muslim, baik dalam hal politik dan sosial.

Survei itu juga mengungkap bahwa intoleransi tidak semata dilatari oleh faktor identitas keagamaan tertentu. Dalam banyak hal, baik kalangan muslim maupun non-muslim sama-sama memiliki kecenderungan intoleran.

Di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama islam, nyaris bisa dipastikan korban dari tindakan intoleran adalah kaum minoritas non-muslim. Sebaliknya, di wilayah yang mayoritas penduduknya non-muslim, korban intoleransi biasanya adalah kelompok muslim. Fakta ini menjadi dasar bagi tesis baru bahwa intoleransi juga dilatari oleh sentimen tirani mayoritanisme.

Tirani mayoritanisme adalah pola pikir atau perilaku yang menunjukkan kecenderungan arogan, despotik dan superior serta merasa diri paling berkuasa.

Ekspresi sosial itu muncul dilatari oleh kesadaran komunal bahwa kelompok yang berjumlah banyak harus selalu lebih dominan dan diistimewakan ketimbang kelompok dengan jumlah lebih sedikit. Tirani mayoritas adalah patologi sosial yang acapkali menjadi batu sandungan bagi terciptanya tata kehidupan sosial-politik yang harmonis dan egaliter.

Pengeboman yang terjadi di Makassar pagi tadi sudah seharusnya dapat meningkatkan kewaspadaan bersama, serta antisipasi yang serius dari pihak keamanan dan pemerintah dimana saja berada. Terkhususnya pemerintah Kota Ambon, bukan mau memprovokasi, akan tetapi insiden-insiden intoleransi seperti di atas bisa saja terjadi dimana saja dan kapan saja tanpa kita sadari. Kewaspadaan dan kehati-hatian merupakan langkah alternatif untuk kita semua dalam memerangi intoleransi. (***)