MALUKUnews, Ambon: Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) akan dihelat pada Rabu, 9 April 2014 besok, namun upaya untuk mendorong kepribadian perilaku pemilih agar memilih secara kritis dan cerdas tak semudah membalik telapak tangan. Hal ini di utarakan oleh Direktur Eksekutif Public Policy Watch Institute (POLWAIS MALUKU), Wahada Mony kepada Malukunews.co via email, Selasa (08/04).

Menurut Pengurus Besar HMI (PB HMI) Bidang Politik Periode 2013-2015 ini, Konstalasi politik di Maluku cukup tinggi hal ini seiring dengan tensi kompetisi parpol maupun para calon legislatif (caleg) yang semakin saja kencang memburu electoral pemilu di hajat politik lima tahunan ini. Namun menyadarkan pemilih agar memberikan pilihan yang tepat dan memilih secara cerdas adalah sebuah tuntutan demokrasi untuk melahirkan legislator yang berkualitas dan kualifaif agar mampu mengagregasi seluruh kepentingan rakyat Maluku baik di Parlemen maupun di daerah.

Aktifis jebolan Fisipol Unpatti ini juga mengakui, pengalaman historis Pemilu dari tahun ke tahun membuktikan, kalau masyarakat sering di beri janji politik tanpa berkesudahan. Artinya pemilih harus di selamatkan dari cara-cara politik yang sesat seperti ini. Untuk itu, masyarakat Maluku sudah saatnya sadar politik secara elektoral agar terhindar dari Money politic (politik uang) maupun pembusukan (political decay).

Lebih lanjut Mony Mengatakan, agar pemilih di Maluku tidak tersesat lebih jauh menuju reversi politik yang otoritarianisme, maka kualitas Pileg di Maluku harus dituntun dengan kuatnya mendorong pemilh cerdas dalam menentukan pilihan secara rasional (rational choise). Hal ini tentunya untuk menyadarkan elektoral dalam memperkuat Pileg 2014 di Maluku dan mampu melahirkan para legislator terbaik, mumpuni dan berkualitas untuk memperjuangkan nasib masayarat kecil, bukan legislator instan yang minim ide dan gagasan.

Wahada Mony terus menjelaskan, jika masyarakat Maluku sadar akan politik dan sadar cerdas akan memilih wakil rakyat maka pilihan untuk Golput akan tergusur dengan sendirinya. Artinya masyarakat didorong dengan pilihan-pilahn politik secara kritis dan cerdas. Hal inipun akan menutup pintu bagi masuknya para “politis busuk” yang akan melaju ke senayan atau ke gedung wakil rakyat di daerah. Oleh karena itu, masyarakat harus mengawasi politsi yang memainkan cara politik kotor dengan kendali sirkulasi uang dan materialisme untuk mempengaruhi preferensi perilaku pemilih seseorang.

Memandang Kinerja KPUD, Mony mengingatkan bahwa Komisiopner KPUD baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota harus tegas dan berperilaku adil serta independen dalam bertugas. Bukan mengendepankan suara politisi yang menajdi partner kerja maupun kolega politik untuk di loloskan. Karena nasib politisi berada di pundak Komisioner penyelenggara pemilu. Suka ataupun tidak, harus menjunjung nilai-nilai etis demokrasi yang konstitusional sehingga terlahir kualitas demokrasi dan pileg yang demokratis.

Mengingat disatu sisi, kinerja KPUD baru ditetapkan mendekati Pileg 2014. Maka dituntut pula untuk bekerja secara etis dan profesional. Sementara disisi lain, penetapan komisioner inipun mengejar aspek sosialisasi politik pemilih dan pendidikan politik. Karena jika sosialisasi pemilih tidak di lakukan secara total di Maluku dengan menjangkau daerah-daerah yang jauh dan terpencil, maka otomatis ancaman partisipasi pemilih akan berkurang. Kondisi ini akan sangat fatal dan bisa menjadi early warning bagi kinerja komisioner penyelenggara pemilu di Maluku.

Maka menurut Mony, Urgensi masa depan Pileg tahun ini di Maluku sangat ditentukan oleh kualitas pemilih yang tersebar di seluruh wilayah di Maluku. Karena satu suara menentukan nasib bangsa dan Maluku untuk lima tahun mendatang. Untuk itu, politisi yang cerdas dan legislator yang merakyat akan di tentukan pula oleh pemilih yang cerdas. Maka kiranya pemilih di Maluku sudah saatnya menggunakan hak pilih dengan baik dan tepat. Agar momentum emas bagi Maluku untuk segera take off dan melangka maju akan segera tercapai menuju wujudnya demokrasi yang substantif. Tutup Mony sambil mengakhiri komentarnya. (Qin)