Oleh: Lutfi Labalawa (Ketua Umum Komisariat IMM Febis Unpatti)

MALUKUnews.co: Ramadhan Bagian Komponen Rukun Islam Sebagai Spirit Pembentukan Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ).

Pada segmentasi ini, dapat kemudian saya mengajak kita semua agar senantiasa bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla, yang karena segala nikmat-Nya kita dapat merasakan harumnya zaitun dunia dan alhamdulilah kita masi dapat dipertemukan dengan Ramadan kali ini (Ramadan 1442 H).

Salawat beserta salam kita hadiahkan kepada Rasulullah SAW atas jalan juang yang ditorehkan diatas papan sejarah sehingga kita dapat mengenal demokrasi dan Islam sebagi rujukan the wa of life.

Belajar dari berbagai literasi, saya ingin mendeskripsikan tentang daya gugah cerdas emosional yang dapat mematahkan status quo generasi atas naungan apatis yang terbentang panjang dalam benak pikiran. Padahal pengaruh perubahan global sangat perlu diantisipasi dengan kesiapan diri sejak dini.

Tidak cukup bagi kita saat ini dan kedepannya hanya mengandalkan cerdes intelektual. Karena pada dasarnya apa yang diungkapkan Ary Ginanjar terkait survei Amerika dalam menentukan suatu keberhasilan yang juga menjadi suatu lapangan pengalamannya atas proses pengembangan usaha kisaran tahun 1988-1994 yang dapat ia temukan sikap-sikap keberhasilan antara lain integritas, komitmen, visioner, kemandirian serta daya tahan, yang kesemuanya ini tergolong cerdas emosional yang dirangkum dalam bukunya ESQ.

Lalu bagaimana dengan cerdas Intelektual (IQ) atas berbagai pengetahuan yang diselami?

Proses kemajuan itu ditandai oleh adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kesenjangan, penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, kolusi, dan lain sebagainya itu terjadi akibat minimnya kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Hal ini diperkuat oleh seorang psikologis dari Yahe, Robert Stenberg yang berkata "bila IQ yang berkuasa, ini karena kita membiarkannya berbuat demikian. Bila kita membiarkannya berkuasa Kita telah memilih penguasa yang buruk".

Lemahnya nilai-nilai ideologi dan keyakinan dapat diruntuhkan oleh perubahan global akibat dari kepanikan generasi atas lemahnya mental keyakinan dalam menghadapi perubahan itu sendiri.

Spirit kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dapat membangun keseimbangan diri yang berkaitan erat dengan integritas, Komitmen, semangat, kreativitas dan konsistensi.

Banyak orang yang minim kecerdasan intelektual tetapi lebih banyak yang sukses karena memiliki EQ dan kemampuan dalam membangun keseimbangan diri antara mental dan etikanya yang fleksibel dan diterima diberbagai tempat. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa kecerdasan intelektual (IQ) hanya terbatas pada syarat minimal dalam meraih kesuksesan. Tetapi survei telah membuktikan bahwa EQ dan SQ memiliki peranan besar dalam mengantarkan seseorang menjadi sukses.

Oleh karena itu, pada momentum Ramadan 1442 H. Kita tingkatkan semangat ketakwaan kita kepada yg tidak berawal dan tidak berakhir, Dialah Allah Azza wa Jalla, tunggal yang tiada satunya, sebagai bentuk wujud dari pengejawantahan nilai spiritua.

Dengan ini, hati dapat mengaktifkan nilai-nilai kita yang terdalam, mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita jalani. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas serta komitmen. Hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita untuk melakukan pembelajaran menciptakan kerja sama, memimpin serta melayani.

"Tidaklah mereka mengembara di muka bumi sehingga mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka mengerti, dan mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar? Sungguh, bukanlah matanya yang buta, tetapi yang buta ialah hatinya, yang ada dalam (rongga) dadanya" (QS. Al-Hajj 22:46).

Suara hati murni itulah yang harusnya dijadikan dasar prinsip paling sederhana, yang mampu memberi rasa aman, pedoman, kekuatan serta kebijaksanaan. Bahkan pendukung fanatik rasionalitas Jhon Stuar Mill berkata "Kebenaran yang berasal dari nurani merupakan kebenaran yang dijadikan acuan bagi semua kebenaran yang lain".

Hal serupa disabdakan oleh Rasulullah SAW dari Wabishah bin Ma'had berkata "Aku datang kepada Rasulullah SAW, maka Beliau bersabda, 'apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan?' Aku menjawab, "benar wahai Rasulullah". Lalu beliau bersabda, mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa yang karenanya jiwa dan hati menjadi tenteram. Dan dosa adalah apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya". Billahi Fii Sabililhaq Fastabiqulkhairat. (***)