Oleh: Rabbani Johanes Paransa (Universitas Amikom Yogyakarta)

MALUKUnews.co: Bulan Ramadhan merupakan bulan suci dan bulan yang penuh berkah bagi umat Muslim di seluruh dunia. Dibulan suvi ini umat Muslim belomba-lomba untuk menahan nafsu dan memperkuat iman serta perbanyak ibadah dan bersedakah.

Tidak terkecuali disalah satu kota kecil di Indonesia Timur, Kota Ambon. Ambon merupakan kota dengan banyak keanekaragaman kuliner manis dan lezat untuk melaksanakan ibadah puasa.

Bulan suci Ramadhan biasanya masyarakat Kota Ambon melakukan aktifitas dan menghabiskan waktu senggang, seperti memperbanyak ibadah, dengan bertadarus dan memperbanyak amalan.

Berbicara mengenai Ramadhan, tidak akan terpisahkan dengan takjil dan makanan berbuka di sela-sela aktifitas masyarakat dalam memperbanyak ibadah.

Beberapa masyarakat beramai-ramai menjajakan kuliner yang di jual di beberapa ruas jalan di Kota Ambon, dengan pusat kuliner yang berada di depan Masjid Raya Alfatah Ambon, Jalan Sultan Babullah.

Pasar kuliner tersebut adalah bentuk dari partisipasi masyarakat kota Ambon untuk turut meramaikan bulan suci Ramadhan dan tentu saja dengan mematuhi protokal Kesehatan pada pandemik yang terjadi sampe hari ini.

Hal yang unik terjadi adalah pasar kuliner sendiri bukan hanya jembatan silaturahim antar sesama umat muslim di Kota Ambon tetapi berperan sebagai simbol kecil untuk kebersamaan antar umat beragama yang dimana Pasar Kuliner Ramadhan tersebut banyak diminati oleh kalangan non muslim juga.

Pasar kuliner Ramadahan yang paling nyaman sambil ngabuburit terletak di depan masjid raya Al - Fatah dikarenakan keanekaragaman kuliner dari jangkauan yang manis, seperi Asida (Dodol Arab), Lontar (Pie Susu), Klepon (Onde – Onde) dan masih banyak lagi. Depan masjid raya sendiri banyak spot untuk berisitrahat atau tempat untuk berswafoto di dalam halaman masjid agar bisa menunggu sampai berbuka puasa.

Berbicara mengenai masjid raya Al-Fatah Ambon penting diketahui, bahwa konon Masjid tersebut merupakan salah satu bangunan yang menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia sendiri.

Masjid tersebut dibangun karena rasa syukur atas berhasilnya Ibu Pertiwi merebut Irian Jaya (Papua) kembali ke pangkuannya, atas rasa syukur tersebut Bung Karno mendirikan sebuah monument yang bernama Monumen Trikora (Tri Komando Rakyat) dan Juga mendirikan Masjid Alfatah yang Alfatah sendiri berarti “Kemenangan”

Sembari pelaksanaan buka Puasa semua umat Muslim di kota Ambon bersiap-siap untuk melaksanakan shalat Magrib, Isya, dan Shalat Taraweh. Usai shalat taraweh sebagian umat muslim berpulangan ke rumah mereka dan sebagiannya menetap di luar agar melanjutkan aktivitas mereka di malam hari.

Biasanya untuk kalangan remaja dari daerah perbukitan sering turun ke kota untuk berkumpul dengan teman – teman mereka di pusat kota, agar mereka bisa meluangkan waktu untuk bertemu dengan teman lama saling mengobrol atau pun memainkan game agar memperkuatkan lagi tali silahturahmi antar teman – teman.

Selain mengajak nongkrong, ada juga yang mengajak dan meluangkan waktu dengan melaksanakan ibadah, seperi mengaji bersama mau dari kalangan anak muda sampai dewasa pun ada. Mendekati tengah malam pun banyak remaja yang masih aktif dan berkeliaran di luar rumah.

Biasanya mereka berperan untuk meramaikan malam hari, hal ini sudah menjadi salah satu tradisi bagi remaja kota Ambon pada saat bulan Ramadhan. Pasalnya banyak kalangan remaja tidak mempunyai waktu di pagi hari untuk meluangkan waktu mereka bersama teman atau sahabat, karena itu mereka memilih pertenganghan malam hari untuk meluangkan waktu secara bersama, dan juga jika jalan – jalan di sekitar Masjid Al-Fatah kita bisa mendapatkan anak- anak muda bermain speak bola di depan halaman masjid.

Selain nongkrong, juga banyak dari komunitas sosial banyak melakukan aktivitas positif untuk membantu rakyat yang tidak mampu, dengan cara membagi makanan ringan dan mempersiapkan makanan sahur yang berupa nasi box, sehingga disebarkan secara massal di seluruh kota.

Ketika mendekati waktu sahur, banyak warteg mulai membuka tempat untuk umat muslim melaksanakan sahur, biasanya waktu persiapannya itu tepat pukul 2.30 – 4.30 WIT.

Biasanya hidangan yang paling sering disediakan oleh masyarkaat kota Ambon sendiri nasi kuning, sehingga ada beberapa tempat yang terkenal dikarenakan rasanya yang begitu enak seperti, nasi kuning Ibu Nanik dan Nasi Kuning Mama Indah.

Kegiatan muda- mudi di Ambon sering melakukan sahur on the road sembari nongkrong bersama. Biasanya mereka pergi ke tempat-tempat yang mempunyai reputasi mengenai makanan mereka, seperti tempat-tempat di atas tersebut. Tetapi jika ingin porsi yang lebih besar opsi lebih tepatnya nasi padang di yang berada di kwasan Batu Merah yang dikenal dengan porsi banyaknya.

Kota Ambon sendiri tidak mempunyai banyak hal yang begitu menarik, apalagi kota Ambon mempunyai historis yang begitu kelam, sehingga stigma yang mengcapkan orang Ambon dengan mempunyai sifat yang sangat kasar dan tidak teratur pun muncul.

Bahkan hampir semua masyarakat di bagian barat nusantara mencap kami orang Maluku sebagai orang jahat, akan tetapi dari semua asumsi tersebut rata-rata orang Ambon sendiri cenderung mempunyai hati yang besar dalam melakukan apapun, karena mereka cenderung memikirkan bagaiman perasaan orang, jika mereka menyakitinya. Untuk itu masyarkaat kota Ambon saat ini masih hidup secara harmonis agar bisa menyampingkan isu-isu negatif agar bisa menjaga ikatan silahturahmi seksama manusia. (***)