Oleh: Julius R. Latumaerissa (Akademisi)

MALUKUnews: Sebagai mantan aktivis mahasiswa periode 1982-1987 dan sebagai aktivis kepemudaan KNPI Maluku periode 1985-1988 dan 1988-1991 di Maluku, saya sangat sepakat jika ada mahasiswa dan pemuda melakukan aksi demonstrasi. Bagi saya demostrasi adalah bahagian integral dari suatu kesadaran dan gerakan pemuda dan mahasiswa atas lingkungan di mana mereka lahir, besar dan tumbuh bersama masyarakat.

Demonstrasi, juga merupakan langkah konstruktif bagi pemuda dan mahasiswa untuk menyampaikan ASPIRASI sebagai bentuk kepedulian atas problematika masyarakat. Karena pemuda dan mahasiswa adalah salah satu elemen yang menjalankan control sosial dalam dinamika dan perkembangan politik di Indonesia maupun di Maluku.

Tetapi yang menjadi catatan kritis saya adalah bentuk demostrasi mahasiswa harus memiliki konsep pikir yang jel;as, terukur dan berlandaskan data dan fakta yang benar dan tepat (kontekstual). kewibawaan, integritas dan moralitas pemuda dan mahasiswa akan diukur disana, berbicara lantang harus memiliki tujuan dan menolak kompromi yang ditawarkan.

Kalau demostrasi dilandasi pesanan (by order) dan diakhiri dengan kompromi, maka menurut saya pemuda dan mahasiswa kehilangan identitas kepemudaanya yang sesungguhnya memiliki idealisme dan daya juang, daya kritis yang tidak bisa digadaikan kepada siapapun.

Demostrasi yang sifatnya followers semata hanya menodai eksistensi kepemudaan dan mahasiswa itu sendiri. Padahal pada mahasiswa dan pemuda adalah masa depan bangsa dan daerah Maluku tercinta. Pemuda dan Mahasiswa adalah agent of development dan agent of change.

Kemampuan intelejens dan naluri politik pemuda dan mahasiswa harus benar-benar dimiliki, sehingga pergerakan aktivitas dapat dipertanggung jawabkan dari semua aspek. Kadar intelektual pemuda mahasiswa menjadi penting dalam berbagai aktivitas apalagi berkaitan dengan gerakan masa dalam bentuk demostrasi.

Pimpinan organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan harus benar-benar memiliki kewibawaan untuk memberikan warna positif bagi organisasi yang di pimpinnya dan juga anggotanya sebagai kader potensial yang harus dibina dan mengembangkan dirinya sebagai ikon masa depan bangsa dan Maluku secara khusus.

Pola-pola pragmatis, transaksional harus menjadi barang tabu dan harum bagi mahasiswa dan pemuda dan mahasiswa Indonesia yang lahir, tumbuh dan besar di Maluku. Hanya dengan sifat dan karakteristik seperti ini yang mampu menempatkan posisi tawar pemuda dan mahasiswa semakin mahal, bernilai dan sangat diperhitungkan.

Mahasiswa dan pemuda saat ini bukan lagi objek pembangunan tetapi lebih berperan sebagai subjek pembangunan. Dalam kedudukan itu maka pemuda dan Mahasiswa Maluku mampu menjadi motivator, korektor, orator, stabilisator, dinamisator dan katalisator masyarakat dalam pembangunan di Maluku.

Pemuda dan mahasiswa di Maluku harus memiliki jiwa dan semangat pejuang untuk membela kebenaran dan kepentingan rakyat Maluku. Adalah haram jika pemuda dan mahasiswa hanya memiliki moralitas sebagai followers dan bukan sebagai initiator. Kemampuan dalam berpikir futristik menjadi tantangan saat ini bagi pemuda dan mahasiswa Maluku.

Kemampuan dalam menciptakan pikiran-pikiran kreatif, innovatif dan inspiratif harus menjadi modal utama dalam perjuangan, sehingga posisi pemuda mahasiswa Maluku adalah mitra berpikir bagi semua stackholders pembangunan di Maluku dan bukan sebaliknya menjadi underbow para ke kepentingan pembangunan di Maluku yang syarat dengan politik interest dan politik identitas yang sempit dan kaku sehingga melahirkan berbagai dikotomi di masyarakat. (***)