Oleh: Hendrik Lewerissa, SH, L.L.M ( Anggota DPR RI )

MALUKUnews: 400 tahun sebelum Masehi ada seorang sejarawan dan penulis terkenal dari Yunani benama Thucydides. Dia mengatakan, bahwa yang kuat akan mengambil apa yang mereka kehendaki, dan yang lemah akan mengorbankan apa yang harus dikorbankan (the strong will take what they want and the weak will suffer what they must).

Tiongkok berani mengklaim Natuna sebagai bagian dari teritorinya, karena merasa dia kuat. Opsi damai yang dapat dilakukan Indonesia adalah berunding atau menempuh jalur litigasi ke Makamah Internasional (International Court of Justice).

Berunding lewat jalur diplomasi sementara dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, karena China adalah salah satu negara sahabat. Jika langkah ini tidak berhasil, maka opsi alternatifnya adalah memperkarakan masalah laut Natuna di Makamah Internasional.

Indonesia pernah menempuh langkah ini, ketika bersengketa dengan Malaysia soal klaim Pulau Sipadan dan Ligitan dan Indonesia kalah. Makamah Internasional memenangkan Malaysia. Harap dipahami, bahwa Hukum Internasional bagi orang-orang yang mempelajarinya diibaratkan seperti harimau tanpa taring.

Hanya kekuatan politik besar di dunia yang bisa memaksakan pemberlakuannya. Tapi, jika negara- negara adidaya itu mengabaikan berlakunya hukum internasional, apalagi negara-negara yang punya hak veto di PBB, orang Maluku bilang parcuma nyong gogos e. Siapa yang mau lawan dong ? Lihat saja invasi USA di Irak dan Afganistan, China di Tibet, Rusia di Crimea (Ukrania) dimana Hukum Internasional itu.

Hukum adalah kerangka, tetapi kekuasaan dan politik adalah otot yang menggerakan kerangka. Tiongkok telah menunjukan taringnya kepada USA dalam kasus konflik Laut China Selatan. Tiongkok tidak peduli dengan kebebasan berlayar (freedom of navigation) yang dianut USA.

Setiap kapal asing termasuk yang berbendera USA yang melintasi Laut China Selatan harus memberitahukan terlebih dahulu (prior notification) kepada otiritas kelaulatan Tiongkok sebelum melintas. Jadi USA saja dilawan apalagi negara di Asean ? Kembali ke Natuna, kalau dua opsi damai di atas sudah ditempuh dan tetap tidak digubris oleh Tiongkok, lalu ? Apakah Indonesia akan menyatakan perang ke China ? Indonesia terlalu lemah dari sisi militer.

Beberapa kapal selam kita saja tidak dilengkapi dengan torpedo dan kemampuan menyelam kapal selam kita hanya 20 jam bandingkan dengan negara tetangga Singapura yang mampu bertahan di dalam air selama 45 hari.

Radar radar kita banyak yang tidak berfungsi..Terlalu lama Indonesia mengabaikan pengembangan kekuatan militer kita karena terlalu percaya bahwa ancaman terhadapa kedaulatan bangsa tidak berasal dari luar tapi dari dalam, lah kong Natuna tuh apa ? Dalam kondisi militer kita yang seperti ini maka sangat naif jika ada komponen bangsa yang berwacana untuk menyatakan perang ke Tiongkok.

Harapan dan doa bukan bagian dari strategi jika kita harus menghadapi agresi pihak asing atas kedaulatan bangsa dan negara kita. Berundinglah sebagai sesama negara sahabat sambil memodernisasi dan memperkuat TNI kita. Sementara itu, sudah harus ada pengalihan preferensi ekonomi Indonesia yang selama 15 tahun terakhir sangat dinikmati oleh Tiongkok ke negara negara super power lainnya. Merdeka ! (***)