Oleh: Lutfi Labalawa (Ketua Komisariat IMM Fekonbis Unpatti)

MALUKUnews.co: Pada tablik akbar yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Maluku sebagai acara perayaan Milad IMM Ke-57, dengan tema "Membumikan Gagasan, Membangun Peradaban".

Dalam acara itu turut hadir sekertaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Ambon Ast. Abd. Karim Tawaulu S.Pd.,M.Pd sebagai penceramah tablik akbar tersebut.

Ada beberapa hal yang dapat kita kutip pada penyampaian beliau terkait tema Milad IMM kali ini, yakni sebagai kader perserikatan perlu kiranya kita fahmi aspek-aspek dalam membangun peradaban, diantaranya yaitu:

1. Pelaku Sejarah (Manusia)

Manusia adalah pelaku sejarah tidak boleh berlaku sebagai pendengar atau penonton sejarah. Manusia sebagai pelaku diharuskan untuk bagaimana kemudian ia mampu secara totalitas berperan aktif membangun peradaban dengan persiapan SDM-nya.

Nah, itulah yang harus dipersiapkan oleh kaders IMM Maluku yang mana budaya ilmiah harus ditingkatkan terutama sebagai mahasiswa agar dapat menjadi orang-orang yang memiliki sumberdaya yang matang.

2. Deskripsi Hari esok dimulai dari hari ini (Gambaran Hari Esok)

Sebagai seorang kader kita tidak hanya bangga dengan almamater dan kartu tanda anggota. Tetapi kita mesti fahami bahwa dunia tidak membutuhkan yang lemah dalam pertautan hidup.

Pesan yang disampaikan pada perayaan milad IMM ke-57 yang berlangsung di Mesjid Buya Hamka SMK Muhammadiyah Ambon oleh Sekertaris Daerah Muhammadiyah Kota Ambon bahwa untuk menjadi kader yang sejati adalah kader tangguh dan militan serta yang harus cerdas, berilmu dan beramal yang baik.

Kita kemudian dituntut agar kiranya dapat mendesain profil peradaban kedepan, yang artinya tidak mudah dan tidak semerta-merta kita bisa membumikan peradaban kalau hari ini kita tidak menjadi pelaku yang aktif dengan mendesain lebih awal tentang sebuah peradaban.

Peradaban itu perlu diukir hari ini sebagai profil perjuangan sehingga dapat terbangun diskursus yang meningkatkan pengetahuan dan bukan justru membuat kita mundur dalam berfikir.

3. Mitilogis

Apakah kita akan menjadikan sejarah masa lalu sebagai titik pergerakan kita ataukah kita akan menjadi penostalgia dengan kejayaan masa lalu.

Kita lebih memilih bangga dengan perjuangan para Founding Father, bernostalgia dengan kejayaan Islam pada masanya tetapi kita sendiri tidak mampu menjadikan itu sebagai kekuatan perjuangan dalam menguasai suatu peradaban.

Pada point ini beliau (Ust. Abd. Karim Tawaulu S.Pd.,M.Pd) telah mengamanahkan kepada seluruh kaders IMM Maluku agar kita dapat menjadikan masa lalu sebagai titik tonggak perjuangan dengan semangat yg tinggi. Sehingga kita tidak menjadi tokoh dalam mitologis, yang dimana kita hanya berada pada cerita-cerita rakyat yang tidak nyata adanya.

Oleh karena itu, kita tidaklah boleh menjadi pecundang sejarah dalam membangun peradaban tetapi bagaimana kita menjadi pemenang dalam sejarah peradaban.

Sehingga Islam dan perserikatan serta bangsa dan negara tidak tenggelam dalam perjalanan sejarah dan peradaban masa lalu. Tapi tetap hidup dan berkembang pada hari-hari sejarah kedepan untuk tetap bersinergi membangun dan menguasai peradaban.

Pada kesempatan ini pula ada sedikit kutipan penyampaian yang menjadi akhir pembicaraan, yaitu dimana sebagai anggota muda diharuskan dapat menjunjung dan meningkatkan spirit keislama dalam meneguhkan ideologi perserikatan Muhammadiyah dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai penafsir tunggal berbagai bentuk problem kehidupan yang merupakan spirit perjuangan ideologi Muhammadiyah.

Hal ini kemudian akan terimplementasi dalam trilogi ikatan yaitu :

  1. Ibadah

  2. Kemahasiswaan (intelektual) dan

  3. Kemasyarakatan

Dari sinilah mengharuskan kita agar mampu untuk melepaskan diri dari kung-kungan ketertinggalan akibat dari kebodohan dan kejahiliaan. Karena Islam tidaklah mengiyakan umat manusia untuk tetap berada pada barisan kebodohan dan ketertinggalan.

Olehnya itu hal ini harus dijadikan sebagai kekuatan agar kita tidak mengekor dalam sejarah tatapi kitalah pengukir sejarah dan tetap membangun peradaban. (***)