Oleh: M. Rusdi, S.Pd.,M.Pd (Dosen Ilmu Pendidikan Sosiologi Universitas Iqra Buru)

MALUKUnews: Virus corona atau Covid-19 merupakan virus yang menyebabkan infeksi saluran pernafasan dan proses penyebarannya seperti penyakit flu yang menyebar secara cepat. Akhir-akhir ini media internasional maupun media nasional sangat gencar memberitakan virus corona.

Tidak sedikit warga negara Indonesia terinfeksi virus corona COVID-19 yang telah diumumkan oleh pemerintah secara resmi. Namun beberapa konten negatif tentang virus corona ikut terviralkan, dijadikan sebagai bahan candaan, saling menyalahkan dan berakhir pada ketidakteraturan sosial karena kecemasan dan ketakutan yang berlebihan.

Tuhan dan Virus Corona

Segala jenis kejadian di muka bumi memiliki hubungan erat dengan Tuhan, itu sudah menjadi keyakinan bagi sebagian manusia. Tuhan itu maha kuasa, segala sesuatu terjadi atas kehendaknya. Tapi itu semua efek dari ulah tangan manusia sendiri.

Konsekuensinya ketika manusia mengikuti petunjuknya maka hal positif akan menghampiri. Sebaliknya, jika manusia menyalai perintahnya maka hal yang bersifat negatif akan menghampiri.

Siapa yang mengirim virus corona? siapa yang menyebar? Dan siapa pula menyembuhkan? Jawabannya bisa jadi beragam. Manusia yang terjangkit virus corona akan menjawab dengan ikhlas “itu karena kehendak Tuhan”. Sadar atau tidak mereka telah menganggap bahwa dialah sumbernya. Dan memberikan bencana berupa virus, berdasarkan dosa manusia.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa, manusia yang terkena virus corona adalah mereka yang berdosa, semakin sulit disembuhkan manusia yang terinfeksi virus corona, maka itu bertanda dosanya juga besar. Pastinya tidak ada yang sepakat dengan kesimpulan semacam itu. Kita sadar bahwa, virus corona tersebar tanpa memandang agama, jenis kelamin, profesi dll. Beberapa penjelasan yang dikemukakan diawal tulisan ini yang bersifat negative, sudah saatnya kita tinggalkan.

Solusi sederhananya untuk tetap mewaspadai virus corona adalah, menghindari keramaian yang tidak terlalu penting, menjaga kebersihan, tidak panik serta berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara menjalankan perintahnya.

Azab Tuhan?

Sebagian postingan di media sosial, membuat konten dan menjastis bahwa virus corona adalah azab yang berasal dari Tuhan terhadap Cina. Berpendapat sotta dalam bahasa Makassarnya, yang berarti “sok tahu” seolah menuduh dan bersifat melampaui Tuhan. Dengan menghubungkan virus corona dengan penyiksaan rejim RRC terhadap muslim Uighur.

Pengunggah bisa jadi dalam posisi tidak konsentrasi, menghubungkan Tuhan dengan virus corona yang jelas-jelas itu karena ulah manusia sendiri. Manusia berbuat Tuhan ikut dilibatkan. Mestinya mereka tetap berpedoman terhadap Al-Qur’an dan Hadits dan menjadikannya sebagai petunjuk dalam beraktifitas, termasuk pada pola hidup bersih dan beberapa jenis makanan yang tidak dianjurkan untuk dikomsumsi.

Pengunggah menyebarnya di medsos bisa jadi tanpa mempertimbangkan dampak sosial yang akan ditimbulkan oleh konten tersebut. Seandainya pengunggah atau salah-satu anggota keluarganya ikut terjangkit virus corona, dan manusia yang lain dalam waktu bersamaan mengunggah kalimat “bahwa itu adalah azab Tuhan”, maka kiranya seperti apa responya? Virus corona betul datangnya pasti dari Tuhan, tapi itu karena ulah tangan manusia sendiri. Untuk tujuan dan maksud, itu hanya Tuhan yang tahu.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawaban.” (Qs.Al-Isra;36). (***)