Oleh: Metta Anastashya Aryo (Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan, Departemen Politik Internasional)

MALUKUnews: Keputusan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan pada Juli 2020 ini menjadi salah satu sorotan di kancah perpolitikan internasional, keputusan Erdogan menimbulkan berbagai macam respon, baik dari masyarakat domestik maupun dari masyarakat internasional.

KebijakanErdogan yang kontroversial tersebut adalah perubahan status museum Hagia Sophia menjadi masjid yang dibuka secara umum untuk tempat beribadah umat muslim yang berlokasi di Istanbul, Turki, namun perubahan status tersebut masih mempertahankan nama bangunan yang sama, Hagia Sophia.

Keputusan yang menimbulkan polemik tersebut menimbulkan tanda Tanya besar dari berbagai kalangan, apakah alasan Erdogan merubah status Hagia Sophia sekedar perubahan kebijakan ataukah ada intrik politik di belakangnya.

Sejarah Panjang Hagia Sophia Sebelum diputuskan menjadi sebuah masjid, Hagia Sophia merupakan bangunan yang mengalami perjalanan sejarah yang panjang. Pada awalnya Hagia Sophia hanya bangunan biasanya yang kemudian dibangun menjadi sebuah gereja pada masa Kekaisaran Bizantium.

Fungsi Hagia Sophia kembali diubah, perubahan ini terjadi pada jaman kesultanan Ottoman dimana Hagia Sophia dialihfungsikan dari bangunan gereja menjadi sebuah masjid. Setelah Turki menjadi negara merdeka dan berbentuk republik, Hagia Sophia beralih fungsi kembali menjadi sebuah museum.

Perubahan status tersebut diputuskan oleh Presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Atatruk. Selain perjalanan sejarahnya yang panjang, Hagia Sophia menjadi unik dikarenakan bangunan ini memiliki dua corak yang melambangkan agama Kristen dan Islam dimana kedua simbol atau corak tersebut terletak berdampingan.

Perubahan Hagia Sophia menjadi sebuah musem dipandang baik karena menjadi tanda bahwa bangunan tersebut menunjukkan solidaritas antar umat beragama khususnya Kristen dan Islam serta penyatuan antar budaya. Sehingga pada tahun 1985, UNESCO menetapkan Hagia Sophia sebagai salah satu situs warisan dunia yang disebut Area Bersejarah Istanbul.

Berbagai respon dari berapa pihak sejak tahun 1934, pemerintah Turki sudah meresmikan Hagia Sophia menjadi sebuah musem, dimana hingga saat ini sudah 86 tahun musem tersebut berdiri. Dengan keunikan dan sejarah panjangnya, museum Hagia Sophia berhasil menarik banyak pengunjung yang menjadi pemasukan bagi devisa negara.

Jika dipandang dari segi ekonomi, perubahan status tersebut akan menimbulkan perubahan yang berasal dari pendapatan yang didapatkan negara dengan Hagia Sophia yang berstatus museum dengan Hagia Sophia yang merupakan masjid.

Hal ini dikarenakan dengan status sebagai museum semua kalangan dapat berkunjung dan masuk museum tersebut, perubahan menjadi tempat ibadah secara tak langsung dapat menciptakan keraguan pengunjung yang beragama non-muslim untuk masuk ke dalam Hagia Sophia dengan berbagai alasan, meskipun Presiden Erdogan sendiri mengatakan bahwa Masjid Hagia Sophia akan dibuka untuk umum.

Keputusan yang diresmikan oleh Pengadilan Tinggi Turki pada Jum’at 10 Juli 2020 tersebut menimbulkan berbagai respon dari berbagai kalangan. Tentu saja respon positif dan dukungan kepada Erdogan atas keputusan ini datang dari umat muslim terutama yang berada di wilayah negara Turki.

Selain respon positif, diputuskannya kebijakan tersebut menuai protes dan penolakan. Sikap kurang setuju ditunjukkan oleh respon internasional dari pihak UNESCO dimana perubahan status museum Hagia Sophia menjadi masjid dapat menghilangkan keuniversalan bangunan tersebut, selain itu berubahnya status bangunan bersejarah ini kurang dikomunikasikan dengan baik oleh Presiden Erdogan dengan pihak UNESCO.

Meskipun perubahan status tersebut merupakan hak berdaulat yang dimiliki oleh negara Turki selaku negara yang memiliki bangunan tersebut namun perlu adanya etika yang baik dalam mengkomunikasikannya dengan pihak-pihak terkait dimana nama Hagia Sophia awalnya secara resmi tercatat sebagai nama sebuah museum. Selain itu respon kontra juga dapat dari pihak internasional lainnya seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Yunani, Rusia dan terutama perwakilan dari Gereja Kristen Ortodoks.

Masyarakat Yunani yang tidak setuju dengan kebijakan tersebut menggelar aksi protes dengan membakar bendera negara Turki. Kekecewan juga datang dari gereja – gereja Kristen Ortodoks yang menyayangkan tindakan tersebut, pihak gereja merasa bahwa Hagia Sophia merupakan bangunan istimewa dikarenakan bangunan tersebut dapat menyatukan sejarah kekristenan dan umat muslim dalam satu bangunan, perwujudan Hagia Sophia dapat menjadi lambing perdamaian antar umat beragama, dikhawatirkan pula tindakan Erdogan tersebut akan menyebabkan perpecahan yang di lakukan oleh umat Kristen.

Indikasi Permainan Politik Banyak pertanyaan yang muncul mengenai alasan Presiden Erdogan mengubah status Hagia Sophia menjadi Masjid termasuk bagi para pengamat ataupun ahli politik.

Sebelum menjabat menjadi Presiden, Erdogan menduduki jabatan sebagai perdana menteri Turki sejak tahun 2003 dan kemudian menduduki jabatan presiden melalui pemilu langsung di Turki pada tahun 2014 hingga pemilu yang akan diadakan lagi pada tahun 2023.

Perjalanan kemimpinan yang cukup lama menimbulkan tanda tanya besar akan tindakannya yang tergolong tiba – tiba dan mengapa baru pada tahun 2020 ini Erdogan menetapkan diubahnya Hagia Sophia menjadi masjid dan langsung meresmikannya lewat pengadilan tinggi Turki. Ditambah lagi dengan kurangnya komunikasi Erdogan dengan pihak lainnya terutama UNESCO menimbulkan pertanyaan bagi publik.

Beberapa poin yang ditemukan penulis mendukung adanya permainan politik yang dilakukan Erdogan melalui kebijakannya tersebut. Sebagai Presiden Turki, nama Erdogan dinilai mulai meredup saat Ia belum dapat memperbaiki kondisi Turki yang sedang carut marut menghadapi pandemi Covid-19 yang juga berdampak pada merosotnya ekonomi Turki.

Akibat hal tersebut partai politik yang dipimpin oleh Erdogan, Partai Keadilan dan Pembangunan mulai kehilangan kepercayaan masyarakat sehingga mengalami kekalahan pilkada pada Maret 2019 lalu di beberapa daerah penting di Turki. Kejadian tersebut menjadi sentilan terutama bagi Erdogan. Sehingga Erdogan dan partainya perlu gebrakan baru yang dapat mendongkrak dukungan dan memperoleh kembali popularitasnya.

Disini mulai terlihat bahwa motif pemilu dapat menjadi alasan Erdogan mengubah status Hagia Sophia, demi mendulang suara kembali diperiode selanjutnya Erdogan dapat memanfaatkan kelompok populis di Turki.

Erdogan dapat memanfaatkan kelompok konservatif Turki khususnya dari masyarakat islam konservatif yang sudah pasti mendukung kebijakan Erdogan tersebut. Selain masyarakat muslim konservatif, Erdogan juga berharap akan dukungan yang diberikan oleh kelompok sekuler Turki. (***)