Oleh: Dr. Agung Kwartama,SE.,MM.,MH (Akademisi)

MALUKUnews.co: Sejak tahun 2018 sampai 2021 dan terakhir menurut AF World Giving Index 2021, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara paling dermawan di dunia.

CAF juga meneliti dampak Covid-19 terhadap tingkat dermawan masyarakat yang diambil dari survei tahun 2020 silam. Terdapat tiga komponen penilaian dalam laporan ini.

Penilaian itu diantaranya kesukarelaan menolong orang asing, yayasan amal hingga menjadi sukarelawan di suatu lembaga swadaya masyarakat. susun CAV, Indonesia memiliki skor 69%, naik dibandingkan pada 2019 yang sebesar 59%.

Dalam laporan WGI, Indonesia memiliki skor tertinggi lantaran orang yang berdonasi di tanah air mencapai 83% pada tahun lalu. Jumlah masyarakat yang menjadi sukarelawan pun mencapai 60%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.

Laporan tersebut melibatkan 1,6 juta orang dari berbagai negara. Indonesia memiliki poin 65 untuk memberi bantuan pada orang asing, 83 untuk donasi, dan 60 untuk keterlibatan menjadi sukarelawan.

Berdasarkan data tersebut kita boleh berbangga dan berbesar hati dengan pencapaian yang dilakukan tersebut, akan tetapi tidak boleh terlena dan lengah akan capaian tersebut. Kita seharusnya tetap menjaga dan meningkatkan untuk terus menjadi manusia yang mampu berbagi dalam kondisi apapun dan dimanapun untuk terus berbuat baik.

Selain itu berdasarkan laporan Pew Research Center, Indonesia dan Filipina menjadi negara yang paling percaya Tuhan. Ada 96% responden di kedua negara tersebut yang meyakini keberadaan Tuhan demi menjadi bermoral dan memiliki nilai-nilai baik. Riset ini dilakukan terhadap 38.426 responden di 34 negara di enam benua pada 2019. Rata-rata responden yakni sebanyak 45% mengatakan perlu untuk percaya kepada Tuhan agar menjadi bermoral dan memiliki aspek nilai-nilai yang baik.

Dengan kondisi sebelum pademi covid 19 ada saat hal ini dianggap yang mungkin lebih mudah dalam pencapaiannya, akan tetapi sejak 2020 sampai 2021 akhir – akhir ini adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan mengingat kondisi semakin terpuruk bahkan data terakhir pertumbuhan ekonomi yang di target kisaran 5,4 % masih di level 4,1% sehingga hal ini menyebabkan tenaga kerja baru dan yang terimbas PHK masih belum terserap secara maximal.

Diperparah bahwa PPKM 2 mingguan dan pembatasan skala besar dalam operasional sangat dilarang mengingat Indonesia saat ini menjadi tertinggi perkembangan wabah covid 19.

Disisi lain pemerintah juga akan mengalihkan Bantuan Sosial saat ini hanya bentuk uang. Dimana Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini mengatakan, saat ini Kementerian Sosial (Kemensos) hanya memberikan bantuan sosial (bansos) berupa uang yang dikirim kepada keluarga penerima manfaat (KPM). Hal tersebut dibenarkan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Penanganan Fakir Miskin (PFM) Kemensos Asep Sasa Purnama.

Melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (7/6/2021), ia menyatakan bahwa Kemensos saat ini sudah tidak lagi memberikan bansos dalam bentuk barang maupun sembako sejak Januari 2021.

Asep menjelaskan, Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) atau Bantuan Sembako, tidak diberikan dalam bentuk barang, melainkan dalam bentuk uang yang dikirim ke rekening penerima melalui Himpunan Bank Negara (Himbara) yang mungkin dalam penggunaanya tidak sesuai peruntukan, apalagi nilai sangat jauh dari kata cukup.

Fenomena di belahan dunia kita melihat efek ekonomi yang ditimbulkan sangat riskan seperti Malaysia negara tetangga yang beberapa daerah tertentu sudah mengibarkan bendera putih ditempat tinggalnya yang menandakan keluarga tersebut sudah menyerah dalam menghadapi pademi ini sehingga membutuhkan bantuan pemerintah dan badan amal yang ikut menyelamatkan dalam memenuhi kebutuhannya.

Negara afrika selatan sudah terjadi penjarahan dikarenakan pemerintah sudah tidak sanggup lagi mendistribusikan bantuan dikarenakan anggaran yang sudah tidak memadai lagi untuk menanggulangi efek ekonomi yang ditimbulkan oleh wabah ini selama 2 tahun lebih.

Selanjutnya di negara kolumbia yang salah satu negara yang terkena dampak signifikan sehingga banyak penganguran dan PHK besar-besaran menyebabkan gejolak ekonomi serta ketidak mampuan pemerintah mengelola anggaran yang sangat terbatas untuk terus memberikan bantuan pangan dan bahan pokok lainnya, dimana pendapatan pemerintah sangat minim dalam pengelolaan dikarenakan ekonomi dan pajak yang sangat sulit.

Bagaimana dengan negara Indonesia saat ini dimana mengalami hal yang sama, akan tetapi kegotong royongan yang sudah menjanji budaya ini tetap terpelihara. Walaupun gelombang PHK, penutupan kegiatan bisnis formal dan akses pelayanan publik yang besar-besar tidak mengurangi rasa tersebut. Seperti banyak relawan dalam organisasi ACT ( Aksi Cepat Tanggap ), HMI ( Himpunan Mahasiswa Islam ), Organisasi resmi ataupun LSM tetap bahu membahu untuk menyalurkan bantuan yang digalang secara mandiri.

Walaupun masih ada kekurangan yang terjadi namum masih dapat dikendalikan dan dikendalikan oleh pemerintah pusat, daerah atau instansi terkait baik kesehatan, sosial, pendidikan, BUMN melalui CSR serta program yang menolong warga sekitar.

Selain itu tradisi yang terbangun saat ini seperti jogo tonggo ( Jaga Tetangga ) yang saling bantu sesame tetangga yang membutuhkan bantuan terus dipelihara dengan baik dan dikelola dengan biaya swadaya. Untuk hari Jumaat terus terjaga dan ditingkatkan dalam perbagi sedekah bahan makanan, minuman kepada yang orang yang membutuhkan , serta tradisi keagamaan lain yang terus menerus dijaga terutama terpatri bahwa tangan memberi lebih baik daripada tangan menerima yang setiap agama di Indonesia terus menerus di sosialisakan.

Bahkan untuk memberikan bantu banyak pengusaha yang terketuk hatinya seperti Pemberian dana sebesar Rp 2 triliun itu merupakan amanah dari almarhum pengusaha bernama Akidi Tio. Hal itu disampaikan dokter keluarga sekaligus perwakilan pihak keluarga sang pengusaha, Prof dr Hardi Darmawan yang diserahkan kepada Pemerintah Sumatera Selatan dan banyak lagi pengusaha, relawan yang sudah menyumbangkan waktu, materi dan pikiran yang tidak terekpos tapi mempunyai dampak signifikan dalam menolong orang yang terimbas pademi covid 19 terutama dibidang ekonomi dan kesehatan.

Walaupun bantuan tidak semuanya memberikan kepuasan pada setiap individu akan tetapi mungkin ini jalan terbaik yang harus dilakukan terutama dalam semangat kegotong-royongan dan saling membantu sebagai satu kesatuan Republik Indonesia. Kita semua berharap dengan kebersamaan dan berbagi dalam kehidupan sehari hari akan memberikan semangat untuk menghadapi pademi covid 19 dengan keyakinan tinggi dan berharap kondisi yang sulit segera berakhir untuk mencapai kehidupan normal yang kita harapkan. (***)