MALUKUnews, Ambon: Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Maluku pada periode September tahun ini sebesar 100,43, atau turun 0,64 persen dibandingkan dengan periode Agustus yang tercatat sebesar 101,08.

Penurunan ini disebabkan oleh perubahan indeks harga yang dite­rima petani (It) sebesar -0,58 persen, lebih rendah dibanding perubahan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang sebesar 0,06 persen.

“Capaian NTP tertinggi pada bulan September 2014 terjadi di sub sektor hortikultura sebesar 109,75, sedangkan NTP terendah terjadi di sub sektor tanaman pangan 93,52,” ungkap Kepala Badan PusatStatistik Maluku Diah Utami dalam ketera­ngan persnya kepada wartawan di kantor tersebut, Rabu (1/10).

Dikatakan, penurunan NTP Pro­vinsi Maluku pada September 2014 disumbangkan oleh penurunan pada beberapa sub sektor yakni tertinggi pada sub sektor tanaman perke­bunan rakyat sebesar 1,55 persen, diikuti sub sektor perikanan 1,01 persen, dan sub sektor tanaman pa­ngan 0,93 persen. Sedangkan sub sektor peternakan dan sub sektor hortikultura mengalami kenaikan NTP masing-masing sebesar 0,43 persen dan 0,39 persen

Pada bulan September 2014, juga terjadiinflasi pedesaan di Provinsi Maluku sebesar0,04 persen yang dipengaruhi oleh fluktuasi harga dibeberapa kelompok pengeluaran terutama disebabkan oleh naiknya indeks pada kelompok sandang sebesar 0,26 persen, pada bulan yang sama juga kelompok trans­portasi masih tetap menduduki urutan tertinggi pengeluaran petani untuk ongkos produksi, yaitu sebe­sar 113,42 sedangkan peningkatan pengeluaran yang tertinggi juga terjadi di kelompok transportasi sebesar 0,25 persen.

Sementara untuk Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi Maluku pada September 2014 tercatat sebesar 110,20, atau turun 0,68 persen dibandingkan Agustus 2014 yang tercatat 110,95, di­sumbangkan oleh penurunan NTUP pada sub sektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,41 persen, diikuti sub sektor perikanan 1,25 persen, dan sub sektor tanaman pangan 1,20 persen, begitu juga de­ngan NTUP tertinggi pada September 2014 terjadi pada sub sektor hor­tikultura 121,02 dan terendah adalah sub sektor tanaman pangan 104,01.

“Indeks NTP yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks har­ga yang dibayar petani, merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan.

NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trading) dari harga produk pertanian dengan harga barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi, semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat ke­mampuan atau daya beli/daya tukar petani. (S5)