MALUKUnews.co, Ambon: Diduga karena tenaga kesehatan menelantarkan jenazah pasien terkonfirmasi COVID-19, masyarakat di Desa Watludan, Kecamatan Teung Nila Serua, Kabupaten Maluku Tengah, mengamuk dan memblokade ruas jalan trans Pulau Seram, Kamis (08/07), kemarin, sekitar pukul 16.15 WIT.

Aksi pemalangan jalan dipicu kekesalan masyarakat terhadap tenaga medis di rumah sakit umum daerah Maluku tengah, yang diduga melakukan tindakan penelantaran terhadap jasad atas nama Marthen Pasalbessy.

Marcelo Ilintutu, seorang kerabat korban mengatakan, peristiwa pemalangan jalan berawal dengan keresahan masyarakat atas prilaku itu oleh pihak medis RSUD Masohi. Sebab, setelah jenazah telah disiapkan secara protokol COVID-19, pihak rumah sakit melimpahkan tanggung jawab kepada keluarga pasien untuk mengurusi peti makam untuk dimakamkan oleh keluarga.

“Pertanyaannya kenapa kalau COVID-19, kalian berikan tanggung jawab pemakaman untuk kita orang negeri (Desa) ini. Kedua, kalau COVID-19, kenapa biaya peti mati dan biaya lainnya adalah tanggung jawab keluarga,” beber Marcelo dikutip Jumat, 9 Juli 2021. Yang sangat disayangkan menurut Marcelo adalah ketika jenazah dari almarhum ditelantarkan oleh pihak rumah sakit di tengah jalan bersama mobil ambulans.

“Saya mau tanya kenapa kalau COVID-19, kalian telantarkan jasad mayat almarhum bapak Marthen di tengah jalan. Ini almarhum bukan binatang di dalam peti,” tegasnya.

Atas tindakan pihak medis rumah sakit do kabupaten maluku tengah menurutnya, telah mencoreng nama baik Desa Watludan di mata publik. Ia meminta klarifikasi dan niat baik pihak rumah sakit terhadap kejadian tersebut.

“Kita minta perbaikan nama baik. Kalian jangan dianggap sepele dan gila terhadap peristiwa ini,” tegasnya.

Ia bahkan mempertanyakan prosedur COVID-19 yang tidak dilakukan oleh tim satgas, padahal telah terlanjur menyatakan jenazah almarhum terkonfirmasi COVID-19.

“Kalau COVID-19, mengapa kalian tidak datang untuk memakamkan jasad almarhum sesuai protokol COVID-19, mengapa? Tanya Marcelo kesal.

Atas luapan emosi itulah kata Marcelo membuat masyarakat langsung memblokade ruas jalan utama penghubung tiga kabupaten di pulau seram. Aksi pemalangan dilakukan ratusan masyarakat Watludan di jalan trans pulau seram, tepatnya di depan perkampungan Desa Watludan. (MN/viva.co.id)