MALUKUnews: Desa Tutukembong, sebuah desa di Pulau Saumlaki yang merupakan salah satu wilayah terdepan Republik Indonesia, akhirnya bebas dari 'gelap gulita' setelah PLTD Tutukembong beroperasi penuh pada 25 Agustus 2015. Meski Indonesia sudah merdeka sejak 1945, desa ini baru menikmati listrik pada 2015 alias 70 tahun setelah kemerdekaan.

Sebelum ada sambungan listrik dari PT PLN (Persero), para penduduk Desa Tutukembong menggunakan lampu minyak tanah untuk penerangan di malam hari. Ada juga sebagian kecil penduduk yang menggunakan genset, terutama warung-warung kelontong.

Oka, salah satu pemilik warung di Desa Tutukembong, menuturkan bahwa setiap hari dirinya menyalakan genset untuk menghidupkan lampu penerangan warung pada malam hari. Dalam semalam, gensetnya membutuhkan 5 liter solar yang harganya Rp 10.000/liter. Artinya, dalam sebulan warungnya butuh Rp 1,5 juta hanya untuk penerangan.

"Saya biasanya dulu pakai genset, semalam habis 5 liter solar. Solarnya Rp 10.000/liter," kata Oka saat ditemui detikFinance di Desa Tutukembong, Maluku, Selasa (25/8/2015).

Namun, Oka kini lega karena tak perlu menghabiskan biaya sebesar itu lagi, sebab desanya sudah tersentuh listrik dari PLN. Dirinya pun segera memasang instalasi PLN di warungnya. "Semoga listriknya jadi nggak mahal lagi," ucapnya.

Selain sangat membantu usaha penduduk, listrik PLN juga sangat berguna bagi rumah tangga. Ona, salah satu ibu rumah tangga di Desa Tutukembong, menuturkan, biasanya rumahnya menghabiskan 1 botol minyak tanah seharga Rp 5.000 untuk penerangan hingga pukul 10 malam setiap hari. (detik.com)