MALUKUnews, Ambon: Posisi Komarudin Watubun di pengurus pusat PDI-P sepertinya tak bakal tergoyahkan lagi. Ketua Bidang Kehormatan DPP PDI-P ini semakin dipercayai oleh Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Sokarnoputri.

Kepercayaan Megawati kepada Komarudin Watubun yang mulai dipanggil dengan BK (Bung Komar) ini, kembali terbukti dengan direkomendasikan oleh Ketua Umum DPP PDI-P untuk mewakili keluarga Bung Karno dalam rangka peresmian Monumen Bung Karno di Samulai, Selasa 25 Agustus.

Pengrsemian Monumen Bung Karno dirangkai dengan berbagai agenda antara lain, pengresmian program Gerakan Pembangunan Terpadu Perbatasan (Gerbangdutas) di Saumlaki serta pengresmian Monumen Bhayangkari Teladan, Mathilda Batlayaeri dan Kantor DPRD setempat.

Gerbangdutas di Maluku melingkupi tiga kabupaten, yaitu, Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), Kabupaten Kepulauan Aru dan Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). Kegiatan dipusatkan di Saumlaki, MTB.

''Beberapa hari yang lalu, saya kembali ke Jakarta dari kunjungan ke Jogja untuk urusan 'Sekolah Partai' dimana saya menjadi kepala sekolahnya. Staf saya menyuguhkan map berisi surat rekomendasi dari ibu Megawati agar saya mewakili beliau hadir dan memberikan sambutan di Saumlaki,'' tutur Komarudin saat membacakan sambutan mewakili keluarga Bung Karno usai pengresmian Monumen Bung Karno oleh Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo, di Saumlaki, kemarin.

Ia katakan, tidak terlalu yakin dengan rekomendasi tersebut, dirinya pun hadir dan menghadap langsung ke Megawati untuk memastikan.

''Ibu Mega pun mengatakan, kamu tahu tentang Bung Karno, tahu tentang ideologi beliau. Kamu juga tahu tentang Maluku karena kamu dari sana. Nah berangkatlah. Sampaikan salam saya untuk semua di sana,'' kata Komarudin menirukan ucapan Megawati Soekarnoputri.

Dalam pidatonya, Bung Komar yang terkenal juga sebagai salah satu orator ulung ini memaparkan kisah perjalanan Seokarno 57 silam ke Saumlaki dengan slogan 'Jas Merah'.

''Saya membaca buku karangan Ir Sokearno dengan judul 'Di Bawah Bendera Revolusi' jilid kedua terbitan Tahun 1965, pada halaman 344, disana sebenarnya konsep Jas Merah, yang dikemukakan delapan tahun berikutnya, yakni pada tahun 1966. Jas Merah selanjutnya dijadikan judul pidato terakhir Bung Karno yang berarti Jangan Sekali-Kali Meninggalkan Sejarah,'' beber Watubun.

Dikatakan pula, dirinya juga membaca bahwa pada kesempatan kunjungan ke Saumlaki pada 4 November 1958, Presiden Soekarno sempat melantunkan pantun, ''Jikalau ada sumur di ladang, kami permisi numpang mandi, jikalau kita umur panjang, kami minta bertemu lagi. Saudara-saudara moga-moga diberkati Tuhan, Jikalau ada sumur diladang kami menumpang ikut mandi, jikalau umur Bung karno panjang, insyaAllah bisa datang lagi di Saumlaki.

Komarudin katakan, dirinya berpikir bahwa pantun yang juga merupakan doa Bung Karno ini sudah dukabulkan olah Tuhan Yang Maha Esa, dimana Monumen Bung Karno ini adalah kehadiran kembali 'ruh' Bung Karno sekaligus mewujudkan pesan beliau tentang Jas Merah (Jangan Sekali-Kali Meninggalkan Sejarah).

''Saya masih berkeyakinan bahwa ruh para leluhur, para syuhada, para pahlawan yang telah berjuang untuk melawan tirani penjajahan realita memang sudah mati. Akan tetapi hakekatnya mereka tetap hidup, karena dari para pahlawan seperti Bung Karno inilah isnpirasi tak pernah padam,'' paparnya.

Pantauan wartawan, Tampil di depan usai pengresmian Monumen Bung Karno, Komarudin benar-benar menggelorakan semangat Soekarno dan semangat Marhainisme.

Ia pun sempat mengingatkan tentang pesan Bung Karno dalam Buku Di Bawah Bendera Revolusi halaman 346-347 yang intinya menyampaikan agar jangan terlalu menoleh ke belakang, karena kendati di masa purbakala kta sering mengalami puncak-puncak kejadian besar yang pantas menjadi kebanggaan. Menoleh ke belakang boleh sekedar menghirup inspirasi perjuangan yang sedang berjalan.

''Yang membuat suatu bangsa bertumbuh dan menjadi besar adalah usaha, dinamika, pembantingtulang, perjuangan, aktifitas yang kreatif, inventiv dan vital. Bangsa-bangsa yang hanya duduk termenung, meskipun menggembar-gemborkan kebesaran sejarah, akan layu dengan sendirinyam akan mengecil dan akhirnya mati,'' ungkap Komarudin Watubun mengutip tulisan Bung Karno.

Sementara itu, Ketua DPD PDI-P Maluku, Edwin Adrian Huwae yang dimintai komentarnya, mengaku salut dengan sosok Bung Komar. ''Beliau sangat luar biasa. Tidak sembarang orang bisa dipercayakan Megawati Soekarnoputri. Masyarakat Maluku harus bangga punya Pak Komarudin, putra Maluku asal Maluku Tenggara,'' tandas Huwae.

Ketua DPRD Maluku ini juga mengaku kendati berasal dari Dapil Papua, tapi kepedulian Bung Komar terhadap Maluku sangatlah besar.

''Beliau pantas juga dijuluki panglima pemekaran Maluku. Atas perjuangannya, ada tiga DOB yang berhasil diproses untuk dimekarkan antara lain, Kabupaten Gorom di SBT, Kabupaten Aru Kepulauan di Aru dan Kabupaten Kepulauan Terselatan (KKT) di Maluku Barat Daya (MBD),'' ujar Huwae. (NAM)