MALUKUnews.co, Ambon: Publik di tanah air sempat dikejutkan dengan tindakan aparat dalam menjalankan tugas terkait aksi demonstrasi yang dilakukan oleh seorang anggota polisi yaitu Brigadir NP yang melakukan kekerasan terhadap seorang mahasiswa berinisial MFA beberapa hari yang lalu. Brigadir NP membanting mahasiswa yang tengah menggelar aksi demonstrasi.

Direktur Lembaga Kajian Pemerhati Hukum Indonesia (LKPHI) Ismail Marasabessy, menyayangkan adanya insiden tersebut. Ia menyatakan, perilaku semacam itu tentu sangat bertentangan dengan misi Kapolri dan potensial merusak citra institusi. Ismail mengapresiasi langkah tegas Kapolda Banten, Irjen. Rudi Heriyanto untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf serta bergerak cepat menyelesaikan persoalan yang melibatkan oknum aparat di wilayah kerjanya.

“Permintaan maaf dan tindakan tegas terhadap oknum aparat oleh kapolda sudah sejalan dengan visi Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo yaitu presisi,” ujar Ismail Marasabessy dalam rilisnya yang diterima Malukunews.co, Kamis (21/10).

Ismail menambahkan, visi kapolri jelas memperkuat profesionalitas polri yang tegas, bersih, kredibel dan berwibawa sekaligus menjadi lebih lebih ramah dan humanis.

“Jadi tindakan pak kapolda Banten atas kejadian ini patut menjadi contoh bagi kapolda-kapolda di daerah lainnya. Tawaddhu dan rendah hati menjadi kunci citra institusi polri terselamatkan,” ucapnya.

Atas berbagai pelanggaran oknum aparat dalam menjalankan tugas, kaat Ismail, kapolri telah menerbitkan telegram nomor ST/2162/X/HUK.2.8./2021 tentang mitigasi dan pencegahan kasus kekerasan berlebihan, bahkan dinilai sangat tepat untuk mencegah tindakan kekerasan berlebihan pada masyarakat.

“Terbitnya telegram tersebut juga menunjukkan bahwa kapolri tidak anti kritik dan responsif terhadap aspirasi masyarakat. Sehingga baik tindakan kapolda Banten maupun instruksi kapolri perlu diberi apresiasi,” ujar Ismail. (Qin)