MALUKUnews, London: Semua orang tua tentu setuju membaca buku sangat penting untuk menunjang kecerdasan buah hatinya. Namun, sebuah survei mengungkapkan, 27 persen anak-anak tidak suka membaca di waktu senggang untuk mencari kesenangan.

Perusahaan riset yang berbasis di Inggris, Childwise, mewawancarai 1.976 anak-anak dan remaja berusia antara lima dan 16 tahun untuk laporan terbaru dari survei tahunannya. Hasilnya, lebih dari seperempat anak atau sekitar 27 persen mengatakan, tidak membaca selama waktu senggang. Fenomena ini lebih banyak dialami anak laki-laki, yang lebih cenderung menggambarkan diri sebagai nonpembaca dibandingkan anak perempuan.

Remaja laki-laki yang berusia 11 sampai 16 tahun adalah pembaca yang paling ringan. Hanya dua dari lima anak yang suka membaca. Sementara itu, anak perempuan yang lebih muda cenderung memiliki minat baca lebih besar, dengan tiga dari 10 anak mengatakan, mereka membaca setiap hari, sementara hanya 26 persen anak laki-laki yang melakukannya. Jumlah waktu yang dihabiskan anak dan remaja untuk membaca demi kesenangan, tetap saja masih kurang," kata Direktur Penelitian Childwise Simon Leggett seperti dilansir di laman Malay Mail pada Rabu (17/2).

"Secara tradisional, anak perempuan selalu menjadi pembaca yang lebih baik dibandingkan anak laki-laki. Baik itu membaca buku, majalah, dan komik. Itu membuat kesenjangan gender dalam membaca semakin lebar," kata Legget.

Meskipun survei menunjukkan penurunan pada anak-anak yang membaca untuk kesenangan, 22 persen dari mereka membeli buku dengan uang mereka sendiri. Anak perempuan paling mungkin menghabiskan sebagian dari uang saku mereka di toko buku, karena 37 persen dari mereka yang berusia 9 hingga 10 tahun membeli buku mereka sendiri.

Meskipun mereka mungkin tidak memanjakan diri dengan buku, tiga dari 10 anak mengatakan bahwa mereka membeli buku untuk mereka oleh orang lain. Separuh dari anak usia 9 hingga 16 tahun yang disurvei mengatakan bahwa mereka juga sering membaca daring, termasuk blog, fiksi penggemar, dan majalah daring.

Fenomena anak tak lagi suka membaca, maka sangat dibutuhkan partisipasi orang tua untuk menuntun anaknya agar lebih dekat dengan buku. (republika.co.id/MN)