MALUKUnews.co, Ambon: Survei Parameter Politik Indonesia merilis hasil surveinya. Hasil suvei itu, menunjukkan PDIP masih menjadi parpol dengan elektabilitas tertinggi dengan 22,1 persen. Sedangkan PKS, meski mengalami kenaikan elektabilitas, masih berada di urutan keenam.

"Sementara ini PDIP masih memimpin perolehan suara partai politik dengan 22,1 persen, disusul Gerindra 11,9 persen, dan Golkar 10,8 persen," kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, dalam diskusi hasil survei yang digelar secara daring, Sabtu (05/06).

Sementara itu, peningkatan yang cukup signifikan terjadi pada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat. Elektabilitas Partai Demokrat berada di peringkat empat dengan 8,4 persen. Kemudian, PKS berada di urutan keenam dengan 7,5 persen. Adi menyinyalir elektabilitas Partai Demokrat meningkat karena huru-hara yang terjadi di Partai Demokrat. Sementara, PKS mendapatkan insentif elektabilitas akibat pembelaan terhadap kelompok Islam yang dinilai dimarginalkan.

"Dua partai ini meningkat, tapi agak signifikan dengan dua isu ini," ucap Adi seperti dilansir republika.co.id, Sabtu.

Dalam surveinya, Adi juga menyoroti soal motif responden memilih partai. Hasilnya sebanyak 22,9 persen memilih partai karena faktor ketokohan. "Ketika kita survei dari partai-partai, yang ada rata-rata mereka menyebut tokohnya bagus (5,4 persen), ada yang menyebut suka sama Jokowi (4,2 persen), ada yang menyebut suka Prabowo (3,2 persen)," ujarnya.

Setelah faktor ketokohan, faktor lain yang juga menjadi motif responden memilih partai, yaitu faktor citra dan emosional dengan (18,2 persen). Sementara itu, faktor keluarga juga memberi pengaruh sebesar 14,2 persen, faktor sosiologis 9,1 persen, dan faktor rasional 6,0 persen.

"Tentu, ini menjadi PR kita bersama masyarakat kita itu yang dibayangkan itu soal ketokohan," ungkapnya.

Untuk diketahui, survei Parameter Politik Indonesia diikuti oleh 1.200 responden dengan metode telepolling menggunakan kuesioner. Margin of error survei sebesar +- 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Pengambilan data dilakukan pada 23-28 Mei 2021. (MN/republika.co.id)