Oleh : Kisman Latumakulita (Caleg DPR RI Partai NasDem dari Maluku )

MALUKUnews: Sabtu 31 Agustus 2013 minggu lalu, sekitar jam dua siang, beta deng tamang Muhamad Suhadji, dengan menumpang spit boot barangkat dari dari Dusun Limboro, Negeri Luhu, Kecamatan Huamual menuju Dusun Tawabi Jaya Pulau Kelang, Kecamatan Waisala untuk menghadiri resepsi pernikahan anggota Nasdem,mempelai wanita yang juga Caleg DPRD Seram Barat dari Dapil Waisala. Sehari sebelumnya katong dua deng beberapa tamang di Limboro nonton pertandingan bola persahabatan antara pemuda-pemuda dari Dusun Limboro melawan Negeri Hila di Limboro. Sebelum naik spit boot, bapa Lebo yang sering mengerjakan pesanan body spiit dari viber mengatakan, "spiit yang kamong naik ka Kelang itu sadiki oleng, mari seng apa apa". Batul kata bapa Lebo. Perjalanan yang hampir satu jam menuju Dusun Tawabi Jaya tegang abiiiiiis. Tadinya, beta kira hanya beta yang tegang. Ternyata sebagian penunpang laeng yang lebih dari 30 orang itu juga tegang, kecuali betang pung tamang Muhamad Suhadji yang tatidor sono sampai di Dusun Tiang Bendera.

Body spit yang memang oleh, dan galombang yang kurang dari satu meter membuat pejalanan ini mengingatkan beta kembali pada masa-masa 30 tahun lalu, setelah lulus SD Kristen Nunialy-Lisabata, beta harus meninggalkan kapong Lisabata dan Niwelehu, Kecamatan Taniwel untuk melanjutkan SMP dan SMA di Ambon. Jalan menuju Ambon yang paling banyak dilewati adalah dengan jadi penumpang Kapal Motor Tiga Belian I, Tiga Berlian II, Wahai Star dan Seram Star. Rasikonya,,, harus melewati galombang Tanjung Alang yang terkenal ganas, dengan tinggi galombang antara 2-4 meter, bahkan bisa lebih tinggi, sampai-sampai bisa juga tenggelamkan kapal motor dengan penumpangnya. Singakat kata, pejalanan satu jam kurang dari Limboro menuju Pulau Kelang adalah penjalanan ngeri-ngeri sadap. Namun pejalanan ngeri-ngeri sadap ini berubah menjadi segudang marah, iri, kesal, benci sejenisnya setelah tiba di rumah shohibul hajat. Bagaimana tidak, sambil minum kopi dan makan roti bluder deng roti lapis gulung,,,, orang tua ayah dari shobul hajat---mempelai wanita namanya Nur, membuka cerita ringan tentang kondisi sosial Pulau Kelang yang dihuni oleh 22.000 lebih manusia itu.

Mendengar cerita ayah membepalai wanita yang kebetulan guru SD,,,, naluri kewartawanan atau jurnalis yang didominasi oleh kecurigaan dan kecurigaan, yang beta sudah kastinggal akang tujuh tahun silam, diam2 muncul, dan mulai mendorong beta untuk menggali lebih jauh gerangan kondisi sosial masyarakat di pulau tersebut. Tenyata kecuriagaan beta seng maleset. Betapa tidak, ternyata di Pulau Kelang ini seng ada sapanggal jalan jalan aspal atau jalan baru dibuka,sertu dan sejenisnya setengah meter peter pun yang menghubungkan mobilitas serta pergerakan orang, barang dan jasa di pulau ini melalui darat.

Hampir 70-90 persen sarana perhubungan antara masyarakat di Pulau Kelang melalui perhubungan laut, kecuali masyarakat yang dusun atau desanya berdekatan dan berbatasan satu dengan yang lain. Namun yang lebih membuat hati ini sedih dan miris adalah seng ada aliran listrik dari pemerintah---Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang menerangi kehidupan masyarakat di Pulau Kelang ini sejak merdeka negeri ini 68 tahun silam. Sebagai mantan wartawan dan aktifis gerakan, baik sejak pelajar di Ambon, mahasiswa serta pemuda---pendemo di Jakarta, arah, bayang bayang serta pandangan kemarahan mulai beta arahkan kepada para pejabat yang punya kewenangan barkiatan dengan dunia litsrik dan kelitrikan negeri ini Mulai dari Pak SBY, Pak Jero Wacik dan sejumlah Menteri Pertambangan dan Energi, sejumlah Dirut PLN yang kebetulan beta kanal mulai dari Pak Djuhal, Pak Armisnyah, Pak Kuntoro Mangkusubroto, Pak Edi Widiono, Pak Dahlan Iskan sampai Dirut PLN yang sekarang beta seng kanal.

Marah, kecewa, kesal dan gundah-guklana juga beta alamatkan kepada kapala PLN Wilayah Maluku dan Maluku Utara, para mantan Gubenur Maluku sampai Pak Karel dan Pak Bib Assagaf, beta pung tamang Bupati SBB Jacobus Patileihalat sampai empat anggota DPRD Kabupaten SBB priode 2009-2014 yang sekarang dipercayaPartai NaDem menjadi Caleg dari Partai NasDem untuk DPRD SBB priode 2014-2019.

Bagimana seng kecewa,,,,,hanya berjarak kira-kira 225-250 kilometer dari Bandar Udara Laha, dimana hampir setiap tahun mulai dari presiden SBY sampai anggota DPRD SBB bolak-balik Jakarta-Ambon, atau 250-300 kilometer dari rumah dinas Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku di Mangga Dua dan Karang Panjang, ada 22.000 lebih rakyat di Pulau Kelang balong dapat aliran listrik dari negera setengeh watt pun, sadiiiiiiiiiiisssssssss memang Padahal perintah dan amanat kemerdekaan dari para bapak bangsa dan pendiri negeri ini sangat jelas jelas jelas dan jelas tertulis dalam alinea ke empat UUD 1945 yang berbunyi "melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia, memajukan kesejahteraan umum (jalan, listrik, air bersih, kesehatan, sandang dan papan), mencerdaskan kehidupan bangsa (pendidikan).

Akhirnya beta hanya bisa berharap dan berdo'a kepada Allah SWT sebagai perbuatan selemah leman iman manusia agar anak didik di Palu Kelang diberikan kecerdasan oleh Allah SWT yang setara dengan suudara-saudaranya di bumi rempa2 dan bumi raja2 di Maluku yang sudah dapat aliran listrik dari negara. Beta juga berharap dan berdo'a agar para guru dan pendidik, serta para medis yang bertugas di Pulau Kelang sabar dan tabah mendidik murid muridnya dan melayani orang sakit meskipun balong dapat pasokan listrik dari PLN. Semoga Allah SWT selalu selalu selalu dan selalu memberikan rahmat, dan karunia-Nya berupa kesabaran dan ketabahan kepada masyarakat di Pulau Kelang dalam menghadapi kenyataan ini. (***)