MALUKUnews, Kairatu: Gempa yang melanda Maluku, 26 September 2019, lalu, membuat anak-anak sekolah di Dusun Waetasi, Kecamatan Kairatu, KabupatenSeram Bagian Barat (SBB), harus meninggalkan kampung halaman dan gedung sekolah mereka yang sudah rusak akibat gempa itu.

Sebanyak 203 siswa SDN Kairatu dan SD Inpres Kairatu, dua pekan terakhir ini tidak bisa sekolah. Pasalnya mereka harus ikut mengungsi bersama orang tuanya di perbukitan, akibat gempa yang dikwatirkan berdampak tsunami itu. Apalagi gempa dengan magnitude 6,8 saat itu berpusat hanya berjarak 200 meter saja dari kampung Waetasi itu.

Agar ratusan anak-anak ini tetap bersekolah, para orang tua, yang Kooordinir Ketua Komite Sekolah, Fatin Tuasamu, berinisiatif bangun sekolah darurat di lokasi pengungsian yang ada di gunung Waelala, Waetasi. Mereka kemudian secara gotong-royong mendirikan dua tenda untuk tempat sekolah anak-anak itu.

Fatin Tuasamu, dalam pesan singaktnya via WhatsApp kepada Malukunews.co, Kamis (17/10), mengatakan, bangunan sekolah SDN Kairatu dan SD Inpres Kairatu, yang ada di Waetasi itu memang rusak total akibat hantaman gempa itu. Para guru dan siswa hingga kini belum bisa berani kembali ke kampung karena masih trauma. “ Untuk menjaga anak-anak ini tetap sekolah, maka kami mengajak orang tua dan para guru yang ada, supaya mendirikan bangunan sekolah darurat dari terpal,” ujar Tuasamu.

Pembangunan sekolah darurat ini, kata Tuasamu, juga sudah disampikan kepada Bupati SBB, Yasin Payapo dan Kadis Pendidikan, Sam Sangadji, saat mereka berkunjung di lokasi pengungsian ini beberap hari lalu itu.

“ Saat ini yang baru kami bangun sebanyak dua tenda, rencananya ada lima tenda yang harus kami siapkan untuk sekolah darurat itu. Kami sangat membutuhkan peralatan belajar tulis-menulis untuk anak-anak. Selain itu kami sangat membutuhkan sentuhan dari lembaga lain, ataupun LSM yang bisa melakukan kegiatan trauma helling untuk anak-anak di lokasi pengungsian ini,” ujar Tuasamu berharap. (MN-01)