MALUKUnews, Piru: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten SBB bereaksi keras atas insiden renovasi Masjid Al Muhajirin Piru yang menyebabkan 1 warga tewas. MUI SBB pun melarang pembongkaran masjid tersebut.

“MUI melarang pembongkaran Masjid Al Muhajirin karena adanya korban jiwa akibat insiden kemarin, serta masyarakat menganggap masjid tersebut adalah ikon pemersatu umat Islam dan Kristen pasca konflik 1999,” Wakil Ketua MUI SBB, Arif Samal kepada Siwalima, Selasa (3/2).

Dikatakan, MUI SBB juga mendesak Polres SBB agar proaktif mengusut dalang dibalik insiden tersebut.

“ Pihak kepolisian sudah harus sigap. Korban akibat insiden tersebut merupakan tanggung jawab ketua panitia peletakan batu pertama yang juga Kepala Dsuun Waimeteng Jusuf Henaulu serta Sekretaris Panitia Abdullah Fakahubun,” katanya.

Ia juga menegaskan akan merekomendasikan 20 personil laskar mengamankan Masjid Al Muhajirin, agar upaya pihak yang menginginkan pembongkaran atau renovasi total Masjid Al Muhajirin Piru dapat dihalau.

Sementara itu, Wakil Bupati SBB, M Husni dan Sekda SBB, Mansur Tuharea yang hendak dimintai konfirmasi perihal insiden peletakan batu pertama renovasi total Masjid Al Mujahirin Piru, tidak berada di tempat.

Seperti diketahui, Proses peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al Muhajirin Piru memakan korban. Satu warga tewas akibat menolak rencana pembangunan tersebut.

Warga yang diketahui bernama Imra Hitimala (38) dan berprofesi sebagai pedagang awalnya terkapar lemas namun meninggal di Masjid Al Muhajirin Piru, Senin (2/2).

Imra warga Dusun Waimeteng Pantai Desa Piru Kecamatan Seram Barat ini adalah salah satu warga yang kontra terhadap pembangunan Masjid yang berlokasi di Depan Dinas Perhubungan dan Infokom SBB ini.

Acara peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al Muhajirin Piru memang sedianya dilaksanakan Senin (2/2) pukul 09.00 WIT, namun karena tenda-tenda yang dipersiapkan roboh akibat diterjang angin kencang, maka pelaksanaannya tertunda pukul 14.00 Wit.

Peletakan batu Pertama yang dihadiri oleh Wakil Bupati SBB, M Husni dan Sekda Mansur Tuharea serta pimpinan SKPD.

“Imra Hitimala ini bersama dengan masyarakat lainnya pergi ke masjid, namun setelah mendengar laporan ketua panitia bahwa akan dilakukan pembongkaran masjid maka warga dan termasuk Imra ini menolak. Mereka tak menginginkan penurunan mimbar dan perlengkapan masjid lain. Kemudian setelah ada tabliq, Imra langsung langsung terkapar dan meninggal,” jelas salah satu pengurus MUI Kabupaten SBB, Edi Hidayat Pattiiha kepada wartawan di Piru, Senin (2/2).

Menyikapi hal, ini, MUI SBB telah bertemu Pemkab SBB dam telah sepakat untuk melakukan rehabilitasi masjid tanpa mengeluarkan mimbar dan alat–alat masjid lainnya.

“Kita telah sepakat dengan Pemkab SBB untuk tidak mengeluarkan mimbar dan alat masjid lainnya. Intinya tidak melakukan pembongkaran pada masjid lama,” kata Pattiiha.

Pantauan Siwalima di lokasi kejadian, setelah mendengar kabar meninggalnya Imra Hitimala, keluarga korban pun berang dan mengejar Kepala Dusun Waimeteng, Jusuf Henaulu dan Sekretaris Panitia Peletakan Batu Pertama Abdullah Fakahubun yang menurut warga merupakan biang rencana pembongkaran Masjid Al Muhajirin .

Kepala dusun yang diamuk warga pun diceburin ke dalam laut. Tak hanya itu, rumah kepala dusun yang berhadapan dengan korban pun tak luput dari amukan warga. (siwalima)