MALUKUnews, Ambon: Yayasan EcoNusa kembali melakukan perjalanan panjang melintasi pulau-pulau yang ada di Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara. Selama kurang lebih 27 hari, Ekspedisi Maluku.

EcoNusa akan melintasi jalur laut sepanjang kurang lebih 2.000 kilometer mengunjungi 25 kampung di 7 (tujuh) kabupaten dan 3 (tiga) provinsi.

Kepulauan Maluku merupakan wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang tinggi di darat maupun di laut. Masyarakat di Kepulauan Maluku pun memiliki berbagai kearifan lokal yang dikenal untuk menjaga sumber daya alam agar tetap lestari.

Cerita keharmonisan antara alam dan manusia di Kepulauan Maluku ini sangat menarik dan penting untuk dijaga supaya alam tetap lestari.

Karena kearifan lokalnya itu, sampai saat ini Kepulauan Maluku dikenal sebagai salah satu penghasil pala dan cengkeh terbesar di Indonesia, dan di sektor laut Provinsi Maluku ditetapkan pemerintah sebagai wilayah lumbung ikan nasional.

Melalui Ekspedisi Maluku EcoNusa, Yayasan EcoNusa sebagai lembaga masyarakat sipil yang berkomitmen untuk meningkatkan pengelolaan sumber daya oleh masyarakat ingin melakukan dokumentasi berbagai kearifan lokal masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan alam tanpa merusaknya.

Selain itu, Ekspedisi Maluku EcoNusa juga akan melakukan kampanye kepada masyarakat supaya lebih peduli terhadap kesehatan laut yang terancam sampah terutama sampah plastik.

Kehadiran pandemi Covid-19 di Indonesia ini juga menjadi salah satu alasan dilakukannya Ekspedisi Maluku EcoNusa. Ekspedisi ini juga memiliki agenda untuk membantu masyarakat mencegah penularan Covid-19 dengan memberikan edukasi kesehatan terkait pencegahan Covid-19 dan distribusi bantuan kesehatan seperti masker, face shield, alat pelindung diri dan sarung tangan.

Selain bantuan kesehatan, Ekspedisi Maluku EcoNusa juga memberikan dukungan untuk memperkuat ketahanan pangan dan pemulihan ekonomi masyarakat lokal yang terdampak Covid-19.

“Tujuan ekspedisi ini adalah untuk bertemu masyarakat dan belajar dari masyarakat di Maluku dan Maluku Utara tentang pengelolaan sumber daya alam, terutama hutan dan laut. Melalui ekspedisi ini, EcoNusa ingin memberikan dukungan kepada masyarakat dalam masa-masa sulit seperti sekarang, terutama dalam hal membangun ketahanan pangan, pemulihan ekonomi lokal dan dukungan pencegahan Covid-19,” ujar Bustar Maitar, CEO EcoNusa dalam rilis yang diterima Malukunews.co, Senin (26/10).

Lokasi pertama yang disinggahi tim Ekspedisi Maluku EcoNusa adalah kampung Der di Kepulauan Kofiau, kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Meskipun masih berada di kawasan Raja Ampat, Kofiau jauh dari gegap-gempita wisatawan. Aksesnya yang sulit menjadi salah satu alasan terbesar. Di kampung ini, tim Ekspedisi melakukan edukasi kesehatan kepada masyarakat dan memberikan bantuan untuk puskesmas setempat.

Tim Ekspedisi juga mendokumentasikan kehidupan sehari-hari masyarakat kampung Der yang berbeda dengan daerah lain di Raja Ampat yang bergantung pada sektor ekowisata, masyarakat kampung Der lebih banyak bergantung pada pengelolaan komoditas kopra.

Saat ini, pengolahan kopra dilakukan secara terbatas untuk konsumsi sehari-hari. Hasil olahan kopra akan dijual jika terdapat hasil produksi berlebih.

Selain kopra, masyarakat setempat juga memanfaatkan sagu sebagai bahan pangan sehari-hari. (Red)